Bisnis Karena MK Mikroekonomi, Bagaimana Bisa?

(Foto & Ilustrasi : Muchsal)

Menjalani waktu sebagai mahasiswa sangatlah menyenangkan. Fleksibilitas jam kuliah membuat mahasiswa memiliki cukup banyak waktu luang. Ada banyak hal positif yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang tersebut. Mulai dari mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), diskusi intelektual, hingga mencari ide bisnis untuk dijalani. Salah satunya Magfirah,  gadis kelahiran Langsa, 29 Juni 2001 ini memulai bisnis karena tertarik dengan mekanisme permintaan dan penawaran pada saat mempelajari mikroekonomi.

Ide berbisnis yang terngiang dipikiran Magfirah didapat saat masuk mata kuliah mikroekonomi. Ketika itu, ia sedang mempelajari permintaan dan penawaran. Magfira yang akrab dipanggil Fira, saat itu berfikir untuk memulai bisnis yang mulanya masih belum tahu jenis bisnis apa yang akan dijalankannya.

Karena adanya keinginan untuk memulai bisnis, hal yang pertama kali terlintas dipikiran Fira adalah membuka bisnis makanan. Namun setelah Fira berfikir panjang, rasanya berbisnis makanan sudah terlalu banyak yang menjajakan, meskipun nantinya dengan olahan yang berbeda akan tetapi ujian persaingan sangatlah ketat. Namun Fira tidak berhenti disitu, tetapi ia melihat keadaan disekitarnya, apa yang bisa dibuat untuk berbisnis.

“Awalnya aku mau iseng-iseng aja jualan, terus mikir untuk berbisnis makanan, tetapi di karenakan sudah banyak yang berbisnis makanan, jadi aku berfikir apa yang saat ini dibutuhkan oleh anak-anak jaman sekarang, tiba-tiba terlintas dipikiran aku untuk bisnis ‘tas’ buat ngampus dengan harga standar,” jelas Fira saat ditanya mengapa memilih berbisnis tas.

Ketika Fira sudah menentukan apa yang akan dia bisniskan, Fira menceritakan keinginannya untuk memulai bisnis kepada teman seangkatannya bernama Rina Fajriana, gadis kelahiran Banda Aceh, 16 oktober 2001. Ide itu disambut positif oleh Rina, bahkan ia mendukungnya. Berhubung Rina ternyata juga memiliki minat yang sama, Nah kemudian mereka berdua mengumpulkan modal bersama lalu membuka usaha tas yang dinamai FNR (Fira and Rina).

“Bisnis tas ini juga didukung oleh orang tua dan kalau bisa dilanjutkan agar menjadi wirausaha” kata Fira saat ditanya perihal dukungan orang tua.

Ketika ditanyai mengenai dampak negatif yang ia rasakan, Fira mengaku jika terkadang ia merasa bosan, dan malas untuk mempromosikan apalagi dengan bertambahnya pesaing-pesaing diluar sana. Namun, dampak negative ini tertutupi oleh dampak positif yang membuat ia senang dengan mendapatkan penghasilan sendiri dan bisa mengenal usaha yang diterapkan dalam pembelajaran di kampus. Berbicara mengenai cara mengelola keuangan, Fira bertutur bahwa pendapatannya bukan untuk dipakai akan tetapi dijadikan sebagai penambah modal.

“Harapan aku kedepannya semoga bisnis jalan terus, lancar terus, dan bisa jadi usaha yang pendapatannya bisa jadi pendapatan utama untuk kami berdua,” ungkap Fira. (Vanya)

Editor : Jamaludin Darma