Darussalam – Dinamika calon tunggal dalam perebutan kursi BEM FEB USK pada tahun ini menjadi sorotan hangat. Situasi tersebut menimbulkan berbagai spekulasi hingga skeptisme mengenai arah gerak organisasi ke depan. Di tengah pembicaraan tersebut, Qanun Meukuta Alam Alasyi yang merupakan mahasiswa program studi manajemen angkatan 2023 hadir sebagai Ketua BEM FEB USK 2026.
Dalam menjawab skeptisme yang muncul di kalangan mahasiswa, Alam berkomitmen untuk membuktikan kinerja BEM melalui langkah-langkah dan dampak nyata. Ia menegaskan bahwa BEM sangat terbuka terhadap kritik, selama hal tersebut didasari oleh objektivitas yang jelas bukan sekedar persepsi subjektif saja. Baginya, keterbukaan terhadap kritik yang membangun adalah kunci utama untuk memperbaiki kualitas pelayanan BEM FEB bagi seluruh mahasiswa kedepannya.
Langkah Alam menuju kursi kepemimpinan ini bukan tanpa alasan, tetapi karena keresahan pribadinya sebagai mahasiswa yang merasa kinerja BEM FEB beberapa tahun kebelakang masih sangat minim dalam hal advokasi. “Ekspektasi saya ketika menjadi mahasiswa baru adalah menjalani kehidupan kampus yang asik, seru, tetapi akademiknya tetap bagus,” ungkapnya dalam wawancaranya dengan Perspektif.
Alam menegaskan bahwa ia bisa saja fokus pada prestasi pribadinya, namun ia memilih untuk terjun ke dalam organisasi fakultas karena ingin dampak dari langkahnya dirasakan oleh seluruh mahasiswa ekonomi. Ambisinya tertuang dalam visi besar untuk menjadikan BEM FEB USK sebagai katalisator kesejahteraan mahasiswa yang kontekstual, progresif, dan sinergis melalui tata kelola yang inklusif, akuntabel dan evaluatif agar menghadirkan dampak nyata tidak hanya untuk internal fakultas, tetapi juga universitas dan masyarakat.
Untuk menjawab keresahan mahasiswa FEB yang sering merasa BEM berjarak dari keseharian mereka, Alam menyiapkan divisi Pengembangan Sumber Daya Manusia (PDSM) sebagai motor penggerak kompetensi mahasiswa baik di bidang akademik maupun non-akademik, melalui mekanisme survei berbasis data yang diisi oleh mahasiswa itu sendiri.
“Kami tidak akan melakukan program kerja atas dasar keinginan kami, tapi atas keinginan dari mahasiswa itu sendiri,” ungkapnya dengan tegas. Hasil dari survei tersebut akan menjadi sebuah program kerja yang memang dibutuhkan oleh mahasiswa.
Lalu, menyadari bahwa adanya jarak komunikasi antara BEM dan mahasiswa, Alam mengusung strategi restrukturisasi melalui pembentukan departemen diplomasi sebagai langkah nyata perbaikan. Departemen ini merupakan transformasi dari divisi hubungan masyarakat yang dipecah menjadi hubungan internal dan hubungan eksternal.
“Kami akan membangun hubungan baik dengan ormawa, UKM, hingga dosen dan juga tenaga pendidik,” jelas Alam mengenai rencananya untuk merangkul seluruh civitas akademika di lingkungan fakultas. Melalui hubungan internal dan Advokasi Kesejahteraan Masyarakat (Adkesma), ia merancang mekanisme penyusunan policy brief yang akan dibawa ke forum “Sapa Dekanat” sebagai instrumen untuk mempertemukan mahasiswa dan pihak birokrasi secara langsung dalam mendiskusikan berbagai gagasan maupun aspirasi.
Visi pemberdayaan ini memperluas pembangunan ekosistem karier yang sinergis dengan merangkul kemitraan strategis bersama alumni dan dunia usaha agar memastikan mahasiswa memiliki akses pengembangan diri yang lebih luas. Lewat tata kelola yang kolaboratif dan responsif, ia berkomitmen menghadirkan program berbasis kompetensi yang adaptif untuk memperkuat kapasitas akademik serta profesionalisme mahasiswa. Langkah ini merupakan wujud nyata kehadiran BEM FEB yang solutif dan mendukung kesiapan karir mahasiswa di masa depan.
Alam ingin menginternalisasikan budaya baru untuk menghapus citra lembaga yang selama ini dianggap hanya untuk urusan seremonial semata. “BEM FEB USK tidak akan lagi menjadi sekedar tempat tanda tangan, titip surat, ataupun yang hanya eksis ketika PKKMB saja,” ujarnya dengan penuh janji. Ia menekankan bahwa BEM tidak akan menjadi lembaga yang mati, melainkan hadir sebagai motor penggerak yang aktif dan tidak hanya menjadi penopang birokrasi kampus saja, tetapi benar-benar berkontribusi dalam satu tahun ke depan. Harapannya ialah tercipta lingkungan organisasi yang lebih peka dan tanggap dalam menghadirkan solusi nyata bagi fakultas hingga masa jabatannya berakhir.
Perspektif/Muhammad Haikal Catur Setya
Editor: Mazaya Kayyisa











