BeritaEntrepreneur

Harvies Coffee dan Cerita yang Tumbuh dari Ketulusan

×

Harvies Coffee dan Cerita yang Tumbuh dari Ketulusan

Sebarkan artikel ini
By instagram Harvies coffe

Kisah tentang kopi, konsistensi, dan mimpi yang tumbuh dari halaman rumah.

Di antara hiruk-pikuk sudut Kota Banda Aceh yang masih memelihara nafas damai dan sisa sejarah, berdirilah sebuah kedai kopi dengan cerita yang melimpah daripada yang terlihat. Harvies Coffee, nama yang kini akrab di telinga banyak penikmat kopi muda Aceh tidak lahir dari kemewahan melainkan dari halaman sebuah rumah sederhana dan tekad yang mendidih seperti air di atas kompor manual brew.

Kisahnya dimulai pada tahun 2014, saat sang pendiri merasa ada yang janggal di antara masyarakat pecinta kopi Aceh. “Kita punya kopi unggulan Arabika Gayo, tapi orang Aceh sendiri jarang meminumnya,” begitu kira-kira kegelisahan yang menyalakan api di dadanya. Sebelumnya, ia telah menjalankan Comos Coffee, bisnis daring yang menjual biji dan bubuk kopi sejak 2012. Dari festival kopi dan pameran yang ia ikuti, muncul pertanyaan sederhana namun menggugah, di mana kedai kopinya?

Pertanyaan itulah yang menjadi percikan pertama Harvies Coffee. Bukan sekadar usaha baru, melainkan manifestasi dari keinginan untuk menghadirkan kopi Aceh kepada masyarakat Aceh sendiri lewat cara yang sederhana, ramah, dan penuh makna.

Dari Halaman Rumah ke Ruang Cerita

Harvies Coffee pertama kali berdiri bukan di ruko strategis atau kawasan bisnis, melainkan di tengah kompleks perumahan. Keterbatasan modal membuat sang pendiri memilih rumah dengan halaman yang cukup luas sebagai tempat usaha. Tetapi justru di sanalah jiwa kedai ini dibentuk. Di tengah kesederhanaan itu, lahir semangat ketulusan.

Segala keterbatasan tidak membuat mereka menyerah. Harvies tumbuh pelan-pelan, berkembang dengan konsistensi dan kesungguhan. Seiring waktu, kedai itu menjadi ruang pertemuan yang akrab, tempat anak muda berdiskusi, pekerja lepas menyelesaikan proyek, dan mahasiswa menulis skripsi di sela wangi espresso.

Nilai utama mereka adalah ketulusan. Dalam setiap proses seduh, dalam setiap interaksi barista dengan pelanggan, Harvies menanamkan keyakinan bahwa pekerjaan ini tidak hanya menjadi sekadar rutinitas mencari nafkah, tetapi juga cara menyentuh hidup orang lain.

Filosofi di Balik Setiap Cangkir

Ada filosofi sederhana di balik Harvies Coffee, yaitu menjadi jembatan antara masyarakat dan kopi. Bagi mereka, kopi lebih dari sekadar minuman, ia adalah medium untuk mempertemukan rasa, pengalaman, dan identitas.

Saat kebanyakan orang masih memandang kopi Arabika Gayo sebagai cita rasa asing, Harvies justru berusaha mendekatkannya dengan menciptakan racikan yang bisa dinikmati siapa saja. “Kami ingin Arabika Gayo mudah diminum oleh siapa pun,” begitu keinginan mereka.

Sejak saat itulah lahir produk-produk Harvies yang “mudah disukai tanpa kehilangan karakter.” Filosofi ini juga menjelaskan mengapa mereka tidak ingin terlalu larut dalam kompetisi. Bagi mereka yang utama adalah memahami pelanggan, bukan menyaingi pesaing.

Tumbuh dari Konsistensi dan Kegigihan

Selama hampir satu dekade, Harvies tidak bergantung pada investor besar. Mereka memilih berdiri di atas kaki sendiri, mengandalkan laba yang ditahan untuk memperluas usaha. Hingga akhirnya pada tahun 2023, mereka memutuskan membuka diri melalui skema crowdfunding dengan menawarkan saham kepada publik.

Langkah itu membuka babak baru kedai kopi ini. Harvies Coffee kini memiliki cabang di Lhokseumawe. Semangat dasarnya tetap sama, tumbuh perlahan dengan hati yang sama seperti ketika pertama kali membuka kedai di halaman rumah.

Di balik perjalanan ekonomi itu, tantangan terbesar justru bukan soal modal, melainkan mental. “Musuh terbesar pengusaha bukan kompetitor, tapi diri sendiri,” ucap sang pendiri. Kalimat itu seolah merangkum seluruh perjalanan Harvies, perjuangan untuk tetap tulus di tengah godaan pragmatisme bisnis.

Menjaga Hubungan, Menyebarkan Nilai

Pandemi yang sempat melumpuhkan banyak usaha FnB (Food and Beverage) menjadi ujian ketahanan bagi Harvies. Sejak awal, mereka sudah merancang model bisnis fleksibel dengan menggabungkan pengalaman dine-in dan produk yang praktis dibawa ke mana saja. Oleh karena itu, cafe ini tetap bertahan tanpa perlu melakukan pemutusan kerja massal pada masa itu.

Bagi mereka, bisnis tidak hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang menjadi bagian dari komunitas. Harvies kerap berkolaborasi dengan berbagai komunitas lokal, mulai dari kegiatan hobi hingga acara sosial. Bagi mereka, kedai kopi adalah ruang sosial tempat ide-ide bertemu, bukan sekadar tempat menyeruput kafein.

Coffee shop di Aceh bukan hanya tempat ngopi,” ujarnya. “Ia sudah menjadi wadah sosial.” Fungsi ini dipelihara oleh toko ini, yaitu menciptakan ruang pertemuan di mana mahasiswa, freelancer, dan pelaku bisnis kecil bisa saling menginspirasi.

Dari Kopi ke Komunitas

Kontribusi Harvies tidak berhenti di meja pelanggan. Kedai kopi ini juga memberi dampak bagi rantai hulu, terutama para petani kopi. Dengan membeli hasil panen secara konsisten, mereka membantu petani untuk percaya bahwa kopi berkualitas mereka akan terserap pasar.

Selain itu, sang pendiri juga aktif di komunitas wirausaha lokal Banda Aceh. Melalui pertemuan informal, mereka saling berbagi pengalaman dan mentoring antarpelaku UMKM. Dari sana, Harvies lebih dari sekadar merek dagang, mereka juga menjadi sumber inspirasi bagi pelaku usaha muda Aceh.

Menuju Jejak yang Lebih Luas

Kini Harvies Coffee tengah bersiap melangkah ke fase berikutnya, yaitu ekspansi ke kabupaten dan kota lain di Provinsi Aceh. Namun, mereka tetap ingin mempertahankan akarnya dengan tetap menjadi ruang belajar, wadah bagi anak muda setempat untuk berkembang secara keterampilan dan karakter di setiap cabang barunya.

Harapannya sederhana tapi besar. Mereka ingin kehadiran Harvies menjadi pemantik bagi tumbuhnya ekosistem industri kreatif dan UMKM di daerah-daerah Aceh. “Kami ingin menjadi bagian dari perubahan sosial,” begitu ambisi yang terus menyala di balik setiap cangkir kopi mereka.

Epilog: Ketulusan yang Menyeduh Waktu

Di Harvies Coffee, secangkir kopi bukan sekadar minuman. Ia adalah cerita tentang ketulusan, ketekunan, dan keberanian tumbuh dalam keterbatasan. Dari halaman rumah di Banda Aceh hingga cabang baru di Lhokseumawe, mereka telah membuktikan bahwa bisnis bisa berdiri di atas nilai-nilai yang manusiawi.

Dan mungkin, setiap kali seseorang menyeruput kopi Harvies, ada sedikit rasa yang mengingatkan bahwa kesederhanaan jika diseduh dengan hati, bisa menjadi kekuatan yang luar biasa.