Darussalam – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel kembali memicu kekhawatiran global. Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan regional, tetapi juga menimbulkan ancaman terhadap kestabilan ekonomi dunia, terutama di sektor energi dan perdagangan internasional. Wilayah Timur Tengah dikenal sebagai salah satu pusat produksi minyak terbesar di dunia. Oleh karena itu, setiap konflik yang terjadi di kawasan tersebut dapat berdampak langsung terhadap pasokan energi global.
Dosen ekonomi, Said Muniruddin, S.E., Ak., M.Sc,menjelaskan bahwa konflik ini menjadi perhatian serius karena terjadi di wilayah strategis penghasil minyak dunia. “Perselisihan ini terjadi di kawasan Teluk Persia yang menyuplai sekitar 20 persen kebutuhan minyak dunia. Angka tersebut sangat besar karena berasal dari satu wilayah saja,” jelasnya. Jika distribusi minyak dari kawasan ini terganggu, dampaknya akan segera dirasakan oleh berbagai sektor ekonomi global.
Selat Hormuz: Urat Nadi Distribusi Minyak Dunia
Kawasan Teluk Persia dikelilingi oleh sejumlah negara produsen minyak besar seperti Iran, Arab Saudi, Kuwait, Qatar, Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Oman. Negara-negara ini memegang peranan penting dalam memenuhi kebutuhan energi global. Salah satu jalur paling strategis dalam distribusi minyak dunia adalah Selat Hormuz. Jalur laut ini menjadi rute utama kapal tanker yang mengangkut minyak dari Timur Tengah menuju berbagai negara di dunia. Apabila jalur tersebut terganggu atau bahkan ditutup akibat konflik geopolitik, distribusi minyak dunia dapat terhambat secara signifikan.
“Jika Selat Hormuz tertutup, kapal tanker tidak bisa masuk atau keluar. Artinya minyak tidak dapat didistribusikan ke berbagai negara,” ujar Said Muniruddin. Gangguan distribusi energi ini dapat menyebabkan kelangkaan pasokan dan meningkatkan harga minyak dunia secara drastis.
Harga Minyak Dunia Mulai Meningkat
Dampak konflik sudah mulai terlihat dari pergerakan harga minyak internasional. Sebelum ketegangan meningkat, harga minyak dunia berada di kisaran 72 dolar per barel. Namun dalam waktu singkat harga melonjak hingga sekitar 85 dolar per barel. Para analis bahkan memprediksi harga minyak dapat mencapai 100 hingga 150 dolar per barel jika konflik terus berlanjut. Minyak mentah merupakan komoditas strategis yang menjadi sumber energi utama bagi transportasi, industri, hingga produksi pangan. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak hampir selalu diikuti oleh kenaikan harga barang dan jasa.
Analisis Ekonomi: Cost Ratio dan Dampaknya pada Biaya Logistik
Untuk memahami dampak lebih lanjut, kenaikan harga minyak ini dapat dianalisis melalui konsep cost ratio, yaitu perbandingan antara perubahan harga energi dengan kenaikan biaya distribusi barang. Secara sederhana, struktur biaya logistik dapat dirumuskan sebagai berikut:
Total Biaya Logistik = Transportasi + Penyimpanan + Penanganan + Administrasi
Dari komponen tersebut, biaya transportasi menyumbang sekitar 40–60 persen dari total biaya logistik, sementara bahan bakar dapat mencapai 30–40 persen dari biaya transportasi.
Simulasi Dampak Kenaikan Harga Minyak
Kenaikan harga minyak dari 72 dolar menjadi 85 dolar per barel berarti terjadi peningkatan sekitar: 18 persen. Jika bahan bakar menyumbang sekitar 35 persen dari biaya transportasi, maka kenaikan biaya logistik dapat diperkirakan: 18persen × 0,35 = sekitar 6,3 persen. Artinya, kenaikan harga minyak sebesar 18 persen dapat meningkatkan biaya logistik sekitar 6–7 persen.
Dampaknya ke Harga Barang dan Inflasi
Kenaikan biaya logistik biasanya akan diteruskan ke harga barang melalui mekanisme cost-push inflation, yaitu inflasi yang terjadi karena meningkatnya biaya produksi. Dalam banyak sektor perdagangan, biaya logistik menyumbang sekitar 15–25 persen dari harga akhir produk. Jika biaya logistik naik sekitar 6 persen, maka harga barang dapat meningkat sekitar 1–2 persen secara rata-rata. Hal ini menjelaskan mengapa kenaikan harga energi sering diikuti dengan kenaikan harga makanan, transportasi, serta kebutuhan pokok lainnya.
“Semua barang dan jasa sangat bergantung pada minyak. Ketika harga minyak naik, biaya transportasi naik, harga makanan naik, dan biaya produksi juga meningkat,” jelas Said Muniruddin.
UMKM: Kelompok Paling Terkena Dampak Saat Krisis Datang
Jika berbicara mengenai ekonomi Indonesia, UMKM bukan sekadar pelengkap saja. Justru di situlah sebagian besar roda ekonomi berputar. Jumlahnya bahkan lebih dari 65 juta unit usaha, dan kontribusinya ke ekonomi nasional juga besar sekali sekitar 60persen dari PDB. Belum lagi soal tenaga kerja, hampir 97persen masyarakat Indonesia bekerja di sektor ini. Masalahnya, di balik peran sebesar itu, daya tahan UMKM masih tergolong rapuh. Waktu kondisi ekonomi lagi tidak stabil, mereka jadi yang paling duluan terdampak. Hal ini terlihat saat pandemi, banyak UMKM yang omzetnya turun drastis, bahkan ada yang terpaksa tutup karena tidak kuat memenuhi biaya operasional. Nah, kondisi yang terjadi sekarang agak mirip. Kenaikan harga energi bikin biaya produksi dan distribusi ikut naik. Untuk UMKM, ini jadi dilema. Kalau harga dinaikkan, takut pembeli kabur. Tapi jika tidak dinaikkan, keuntungan akan semakin berkurang yang dapat menyebabkan kerugian.
Belum lagi ada masalah lain yang dari dulu memang jadi tantangan, seperti:
- Modal yang terbatas
- Akses distribusi yang belum efisien
- Daya beli masyarakat yang lagi melemah
Apabila dilihat lebih luas, ini bukan cuma soal UMKM semata. Kalau sektor ini ikut goyah, dampaknya bisa ke mana-mana mulai dari pengangguran naik sampai ekonomi ikut melambat.
Antara Rasa Aman dan Realita di Lapangan
Di tengah situasi global yang sedang tidak pasti, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia sempat menyebutkan bahwa kondisi energi Indonesia masih relatif aman. Artinya, untuk sekarang pasokan masih terkendali dan belum ada gangguan besar. Akan tetapi, jika dilihat lebih dalam, kondisi ini sebenarnya tidak sesederhana itu. Indonesia masih cukup bergantung dengan impor minyak. Jadi, apabila harga minyak dunia terus naik karena konflik, kita tetap akan terkena dampaknya minimal dari sisi harga. Bandingkan saja dengan Jepang yang punya cadangan energi sampai ratusan hari. Indonesia sendiri masih belum sampai ke level itu. Wajar saja kalau banyak yang menilai, ketahanan energi kita masih perlu diperkuat, terutama untuk jangka panjang. Dengan kata lain, kondisi sekarang mungkin masih aman di permukaan. Namun bila konflik ini berlangsung lama, tekanannya pekan-pelan mulai terasa.
BOX FAKTA
Fakta Penting Krisis Energi Global
- Timur Tengah menyuplai sekitar 20persen minyak dunia
• Selat Hormuz merupakan jalur distribusi minyak paling penting di dunia
• Harga minyak naik dari 72 dolar menjadi 85 dolar per barel
• Jika konflik memburuk, harga minyak bisa mencapai 100–150 dolar per barel
• Kenaikan minyak 18persen dapat meningkatkan biaya logistik sekitar 6persen
Krisis Selalu Melahirkan Peluang
Meskipun konflik global sering menimbulkan dampak ekonomi negatif, setiap krisis juga dapat membuka peluang baru bagi pihak yang mampu membaca situasi. Menurut Said Muniruddin, dalam setiap konflik biasanya terdapat dua kelompok yang muncul: pihak yang semakin kaya dan pihak yang semakin miskin. Contohnya terlihat pada masa pandemi Covid-19, banyak bisnis baru yang berkembang seperti penjualan masker, alat kesehatan, serta layanan digital. “Selalu ada peluang dalam setiap krisis jika kita mampu melihat perubahan yang terjadi,” ujarnya. Ia berharap konflik di Timur Tengah dapat segera mereda agar dampak ekonomi global tidak semakin meluas.
(Perspektif/Saskia)











