Darussalam — Sekitar 30 siswa kelas 3 SDN 57 Banda Aceh mengikuti kampanye sosial tentang edukasi perlindungan diri yang dilaksanakan oleh mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Syiah Kuala (USK) pada Kamis, 15 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan pentingnya menjaga area pribadi dan mengajarkan anak-anak untuk berani menolak sentuhan yang membuat mereka merasa tidak nyaman. Pentingnya edukasi perlindungan diri bagi anak juga didukung oleh data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Dalam laporan SIMFONI PPA tahun 2024, tercatat sebanyak 11.771 anak di Indonesia telah menjadi korban kekerasan seksual.
Sementara itu, hasil Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 menunjukkan bahwa 1 dari 2 anak di Indonesia pernah mengalami setidaknya satu bentuk kekerasan. Data tersebut menunjukkan pentingnya upaya pencegahan dan edukasi sejak dini agar anak-anak dapat mengenali batasan tubuh, memahami situasi yang tidak aman serta mengetahui cara mencari pertolongan.
Berangkat dari pentingnya hal tersebut, mahasiswa USK mengadakan kampanye bertema “Tubuhku, Pribadiku: Kenali Batasnya, Lindungi Dirimu”. Melalui kegiatan ini, mereka ingin membantu siswa memahami batasan tubuh mereka sendiri dari orang lain dan mengetahui langkah yang perlu dilakukan ketika menghadapi situasi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Kegiatan ini melibatkan lima mahasiswa, yaitu Cut Nayla Izzati Humaira, Anggun Humayra, Khairul Akhyar, Wina Adiana, dan Lathifah. Acara dimulai dengan perkenalan kemudian dilanjutkan dengan pre-test untuk mengetahui pemahaman awal siswa tentang area pribadi dan batasan sentuhan.
Dari hasil pre-test, diketahui bahwa masih banyak siswa yang belum memahami area pribadi mereka. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi mengenai perlindungan diri perlu dikenalkan sejak dini agar anak-anak lebih memahami batasan tubuh dan tahu bagaimana melindungi diri ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman.
Materi disampaikan secara interaktif melalui penjelasan sederhana dan pemutaran video edukatif. Agar siswa lebih mudah memahami materi, mahasiswa juga mengajak mereka mengikuti kegiatan “Joget Area Pribadiku”. Melalui lagu dan gerakan sederhana, siswa belajar untuk berani mengatakan “tidak” terhadap sentuhan yang tidak diinginkan serta melaporkan kejadian yang membuat mereka merasa tidak aman kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang mereka percaya.
Kepala SDN 57 Banda Aceh, Nurlina, menyampaikan bahwa edukasi perlindungan diri penting diberikan kepada anak-anak sejak dini karena mereka masih belajar membedakan perilaku yang benar dan salah.
“Kegiatan seperti ini sangat perlu dilakukan, apalagi untuk anak-anak kecil yang belum sepenuhnya mengetahui mana yang benar dan mana yang salah. Dengan adanya edukasi seperti ini, anak-anak diharapkan bisa lebih memahami batasan diri dan mengetahui apa yang harus dilakukan ketika menghadapi situasi yang tidak aman,” ujar Nurlina.
Setelah penyampaian materi selesai, siswa kembali mengerjakan post-test untuk melihat pemahaman mereka setelah mengikuti kegiatan. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa lebih memahami area pribadi dan lebih berani mengatakan “tidak” ketika ada orang lain yang ingin menyentuh mereka tanpa persetujuan.
Kegiatan kemudian ditutup dengan pembagian makanan ringan dan foto bersama siswa, guru, serta tim mahasiswa USK. Melalui kampanye ini, mahasiswa berharap anak-anak tidak hanya memahami pentingnya menjaga area pribadi, tetapi juga berani bercerita dan meminta bantuan ketika mengalami situasi yang membuat mereka merasa tidak aman.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk penerapan ilmu komunikasi dalam kampanye sosial sekaligus upaya mahasiswa untuk ikut mengenalkan pentingnya perlindungan diri kepada anak-anak semenjak dini.
Penulis: Khairul Akhyar
Editor: Mazaya Kayyisa











