
Darussalam – Massa aksi dari Aliansi Rakyat Aceh (ARA) yang terdiri dari elemen masyarakat dan beberapa universitas menggelar aksi ARA Jilid 2 pada Senin, 11 Mei 2026. Terhimpun dari 9 simpul lembaga, massa aksi tidak akan pulang sebelum Muzakir Manaf (Muallem) datang.
Massa aksi mulai memenuhi pelataran Kantor Gubernur Aceh mulai pukul 15.00 WIB. Massa masih membawa tuntutan yang sama, yaitu pencabutan Pergub No.2/2026 tentang Jaminan Kesehatan Aceh (JKA) yang dianggap menimbulkan polemik bagi hak kesehatan masyarakat Aceh. Kali ini massa meminta agar Gubernur Aceh, Muallem, turun langsung berjumpa dengan massa untuk mencabut Pergub tersebut.
Permintaan tersebut dilengkapi dengan implikasi jika Gubernur tidak segera turun dan mencabut Pergub tersebut, massa siap bermalam di pelataran Kantor Gubernur Aceh. Permintaan itu disampaikan dengan serius sebagai upaya untuk kesuksesan aspirasi tersebut.
Sebelumnya massa sempat mencoba masuk ke dalam Kantor Gubernur, namun karena penjagaan dari kepolisian, akhirnya massa melakukan aksi di depan lobi Kantor Gubernur. Orasi disampaikan oleh setiap simpul barisan, dimulai dari perwakilan UIN Ar-Raniry, Universitas Muhammadiyah Aceh, Universitas Iskandar Muda, Universitas Serambi Mekah, dan beberapa lainnya. Setiap orator membawakan pesan yang sama, yaitu pencabutan Pergub No.2/2026.
“Kami siap untuk beradu argumen tentang bagaimana Pergub ini harus dicabut. Kami sudah menyiapkan beberapa draf hukum, beberapa kajian, yang kemudian kami gunakan untuk membantah pemerintah bahwa Pergub ini salah,” terang Tengku Raja Aulia Habibie mewakili ketiga rekan promotor aksi lainnya.
Menjelang sore, akhirnya massa aksi mendapat tanggapan dari pihak kepolisian untuk permintaan menginap tersebut. “Tadi kami sudah berkoordinasi, saya sebagai juru bicara aliansi, ada korlap, dan dengan sembilan simpul lembaga lainnya sudah berkoordinasi dengan Kapolresta tadi. Kami ingin menginap di kantor gubernur dan alhamdulillah permintaan dari rekan-rekan aliansi diindahkan oleh pihak Polresta,” ucap Habibie usai berjumpa dengan Kapolresta Banda Aceh.
Menanggapi isu adanya provokator di balik aksi ini sebelumnya, Tengku Raja juga mengatakan bahwa aksi ini hanya didanai oleh masyarakat, tidak ada pihak mana pun selainnya.
“Alhamdulillah sampai tadi malam, iuran terkumpul sebanyak 1 juta 500 ribuan yang kami gunakan untuk beli air, sewa pengeras suara, dan sebagainya. Jadi info kalau kami dikendarai jelas tidak benar. Kami tidak dibiayai sepeser pun. Pernyataan dari Kapolda kami rasa itu penyesatan publik,” tegasnya.
Kapolresta Banda Aceh, Andi Kirana, menegaskan syarat agar demonstran tidak bertindak anarkis dan menjaga suasana tetap kondusif. “Tentunya kita sudah menyiapkan juga tim yang sudah menyebar untuk memantau kalau memang terjadi hal-hal yang sifatnya provokatif,” terangnya.
Kondisi di sekitar lokasi aksi terpantau aman dan terkendali dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian. Pihak keamanan terus berjaga di titik-titik strategis guna memastikan aksi menginap ini berjalan tertib sesuai dengan kesepakatan bersama.
(Perspektif/Ziyat Dayyan)
Editor: Intan Dwi Yanti











