Almamater 2019, Apa Kabar?


DarussalamAlmamater memiliki fungsi yang vital yaitu sebagai salah satu identitas mahasiswa. Jas berwarna hijau ini merupakan identitas khas yang dimiliki para mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK). Umumnya almamater dibagikan di awal masa perkuliahan. Namun, mahasiswa angkatan 2019 USK mengalami keterlambatan dalam pembagiannya.

Hal ini bukanlah yang pertama kalinya terjadi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis USK. Berkali-kali keterlambatan ini terjadi seperti di tahun 2015 dan 2016. Setelah terdapat keterlambatan di tahun-tahun yang tertera, pembagian almamater pada tahun 2017 dan 2018 kembali tepat pada waktunya. Namun, di saat reputasi ketepatan jadwal pembagian almamater ini sedang bagus-bagusnya, kesalahan yang sama terulang kembali di tahun 2019. Saat ini mahasiswa angkatan 2019 sudah menjelang akhir semester 4 dan mereka tak kunjung mendapatkan salah satu haknya yaitu almamater.

Mahasiswa pun merasa kecewa terhadap tidak adanya penjelasan keberadaan almamater. Salah satu mahasiswa angkatan 2019 jurusan Manajemen mengungkapkan kekecewaannya. “Dibilang sedih tidak juga. Cuman ya ada sisi geramnya, masa leting yang baru (2020) lebih dahulu ada daripada leting yang lama (2019). Kan pertama udah dijanjiin, kalau misalnya benar tidak ada kenapa harus berjanji di awal,” tutur mahasiswa tersebut.

Mahasiswa berpatokan terhadap sistem tahun sebelumnya pada pembagian almamater yaitu dibagikan oleh pihak fakultas dan biayanya dipotong dari Uang Kuliah Tunggal Berkeadilan (UKTB) mahasiswa. Seperti pernyataan yang disampaikan oleh mahasiswa angkatan 2018 jurusan Akuntansi, “ Almamater dibagikan untuk kami beberapa minggu setelah perkuliahan di semester 2, diambil di ruang WD3, kami tidak ada pembayaran almamater lagi karena sudah dipotong dari biaya UKTB, jadi tinggal diambil aja,” ungkapnya.

Namun Wakil Dekan 3 Bidang Kemahasiswaan dan Alumni,Bapak Murkhana, S.E., M.B.A., beliau mengatakan bahwa sejak tahun 2019 biaya almamater tidak lagi dipotong dari UKTB mahasiswa dan pengurusannya dipindah tangankan kepada pihak Unsyiah Mart.

“Biar mudah urusannya. Kalau pegawai yang urus kan bahaya, pegawai tidak boleh berdagang. Kalau Unsyiah Mart itu dia memang berdagang,” ujar beliau.

Pada dasarnya yang bertanggung jawab tentang almamater adalah biro kemahasiswaan. Pihak fakultas hanya diarahkan oleh biro. Walaupun biro kemahasiswaan yang bertanggung jawab terhadap pembagian almamater ini, seharusnya pihak fakultas tetap memberikan informasi kepada mahasiswanya.  Akan tetapi, untuk kasus ini mahasiswa tidak mendapatkan informasi resmi dari pihak fakultas mengenai perubahan sistem tersebut.

“Kami tidak tau ada perubahan sistem. Apakah harus beli atau masuk ke biaya UKT atau biaya pendaftaran. Istilahnya tidak ada klarifikasi dari pihak kampus, kalau memang jelas harus kami beli kan jadinya kami tidak berharap. Ini masalahnya kami seakan-akan dipotong langkah kami untuk angkatan 2020. Padahal yang paling membutuhkan itu kami untuk kedepannya KKN,” ujar salah satu mahasiswa.

Padahal jas almamater mempunyai hubungan yang erat dengan berbagai kegiatan mahasiswa. Ketika hendak melakukan kegiatan organisasi, mempromosikan Kampus, melakukan kunjungan, mengikuti lomba dan kegiatan positif lainnya yang membawa nama kampus, memakai almamater dapat memberikan dampak yang positif terhadap reputasi kampus. Sayangnya, para mahasiswa angkatan 2019 harus mencari pinjaman almamater sebelum melaksanakan kegiatan-kegiatan tersebut.

Dilihat untuk kedepannya, jika ingin mempunyai almamater, para mahasiswa harus memesan dan membelinya di Unsyiah Mart. Hal tersebut tidak diwajibkan oleh pihak fakultas sehingga mahasiswa angkatan 2019 dikasih pilihan, boleh membeli jas almamater ataupun tidak. Beberapa mahasiswa pun mengungkapkan bahwa mereka tidak lagi mempunyai keinginan untuk membeli karena sudah terlanjur kecewa dan sudah terbiasa meminjam, kecuali dalam keadaan mendesak.

Keterlambatan beberapa bulan saja tentunya sudah sangat menjengkelkan, apalagi di kasus ini sudah terlambat beberapa semester. Wajar para mahasiswa merasakan kekecewaan yang mendalam. Oleh karena itu, seharusnya hal ini menjadi perhatian khusus bagi fakultas, mengingat kejadian yang terus berulang. Sepatutnya, ada pemberitahuan sejak awal dari fakultas terkait informasi bagaimana pembagian almamater mahasiswa angkatan 2019, sehingga mereka tidak kebingungan menunggu kabar datangnya jas almamater.

Lantas, akankah keterlambatan pembagian jas almamater ini terulang lagi kedepannya? (Naa & Tiasabila)

Editor : Jannah