Dampak Corona Terhadap Perekonomian Bangsa

Ilustrasi : Muchsal

“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit,” Pramoedya Ananta Toer

Menyoroti kehangatan merosotnya nilai rupiah yang bak main di perosotan beralas api. Hal ini tidak semata-mata terjadi karena kebijakan tuan Donald yang menarik turunkan FED seperti tahun 2019 yang lalu. Namun, hal ini terjadi karena kehadiran si dia yang tidak pernah kita harapkan, ya virus corona.

Si kecil-kecil mengerikan inilah penyebab keambyaran, mulai dari penyakit Covid-19 hingga berdampak pada perekonomian di negeri khatulistiwa. Bahkan bukan cuma di Indonesia saja, melainkan ke seluruh penjuru mata angin dunia turut merasakannya.

Lalu bagaimana pemerintah Indonesia menyikapi ini ?

Dapat kita perhatikan ekonomi dunia terguncang begitu hebatnya, tak terkecuali Indonesia. Kurs rupiah dan indeks saham melemah. Konsumsi domestik dan industri pun terkecam karenanya.

Pesatnya penyebaran virus corona mampu menggucang pasar saham global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pun tak mampu menahan pengaruh pasar saham global. Setelah kasus pertama virus corona di Indonesia dikonfirmasi pada awal bulan Maret oleh pemerintah, seketika IHSG langsung anjlok.

Kemudian fokus kita kini pada nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di kurs tengah Bank Indonesia (BI).

Senin (30/3/2020), Kurs tengah BI atau kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate/Jisdor berada di Rp. 16.336. Rupiah melemah 0,65% dibandingkan posisi akhir pekan lalu. Akan tetapi tak hanya rupiah saja yang melemah, hampir seluruh mata uang utama Asia melemah dihadapan Dollar AS.

 

Dollar AS VS Mata Uang Asia

Mata Uang Kurs Terakhir Perubahan %
 USD/CNY 7.09 -0.08
 USD/HKD 7.75 0.02
 USD/IDR 16,250.00 0.93
 USD/INR 75.47 0.78
 USD/JPY 107.28 -0.57
 USD/KRW 1,225.35 1.08
 USD/MYR 4.35 0.46
 USD/PHP 51.05 -0.13
 USD/SGD 1.43 0.01
 USD/THB 32.66 0.31
 USD/TWD 30.24 0.20

Chart: Hidayat Setiaji*Source: Refinitiv

 

Ini membuktikan bahwa tidak hanya mata uang rupiah saja yang mengalami depresiasi, akan tetapi tiap-tiap negara ikut merasakan dampak dari pandemi ini.

Bank Indonesia merilis per 16 sampai 27 Maret nilai mata uang rupiah terhadap Dollar, dimana dapat kita soroti depresiasi terus terjadi dimana mampu menjatuhkan rupiah ke titik yang terakhir kali disentuh pada tahun 1998.

Sumber : Bank Indonesia

Lalu yang tak kalah telaknya ialah konsumsi swasta, yang menyumbang hampir 60% pergerakan ekonomi nasional, dipastikan akan mengalami kontraksi akibat wabah ini. Penjualan retail, baik di pasar tradisional dan pasar modern dipastikan turun.

Tak hanya itu, meluasnya kekhawatiran masyarakat dan investor terhadap Covid-19, menyebabkan minat investasi juga turun secara signifikan, sehingga pertumbuhan investasi baru akan melambat. Inilah salah dari berbagai faktor yang membuat kurs rupiah terus melemah. Kabar mengembirakan pun datang, yaitu stimulus fiskal yang dilakukan pemerintah menjadi kunci utama dalam menguatkan dampak negatif terhadap ekonomi, terutama bagi pelaku usaha dan kelompok masyarakat yang terkena dampak.

Kemudian Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo berujar pada siaran pers Jumat (24/03/2020) bahwa Bank Indonesia akan terus menggunakan berbagai instrumen-instrumen yang ada baik moneter, instrumen pasar, pasar uang, pasar fales dan instrumen terkait untuk bersama koordinasi yang kuat dengan Pemerintah dengan Menkeu dan otoritas terkait OJK dan juga LPS dengan berbagai pihak melakukan stabilisasi makro ekonomi, sistem keuangan dan mengatasi dampak negatif Covid-19 ini.

Kini Bank Indonesia mengeluarkan beberapa kebijakan untuk meredam dampak kepanikan masyarakat, terutama investor terhadap pandemi Covid-19, dengan menurunkan suku bunga (BI 7-Day Reserve Repo Rate) hingga 50 bps selama 2020 ini menjadi 4,5%.

Meski begitu, kepanikan investor di pasar modal yang memicu meningkatkan net selling asing membuat rupiah menjadi mata uang yang mengalami depresiasi paling anjlok diantara mata uang di negara-negara ASEAN.

Selain itu, wabah ini memungkinkan juga mendorong potensi kemiskinan terus tergerus serta meningkatkan pengangguran meningkat. Akibatnya, golongan rentan miskin yang bekerja di sektor informal dan mengandalkan upah harian akan sangat mudah kehilangan mata pencharian dan jatuh kebawah garis kemiskinan.

Meskipun pemerintah telah melakukan berbagai upaya pencegahan, seperti penutupan sekolah, work from home, dan berbagai macam lainnya. Dengan begitu inilah yang menjadi roda perputaran ekonomi melambat.

Harapannya pemerintah segera mengeluarkan kebijakan terkait perekonomian bangsa yang terus terperuk ini dengan mempertimbangkan seluruh sektor yang ada, terutama golongan masyarakat menengah ke bawah agar dapat menjalankan hari-hari esok tanpa harus mengkhawatirkan bagaimana nasib kedepannya.

Berbagai rintangan telah dilewati bangsa ini, kini kita diuji kembali. Maka kuatkan langkah, hentakkan kaki dan ucapkan Bismillah. Moga-moga Allah melindungi kita semua.

“Tuhan sebenarnya telah menyediakan penyelesaian atas kesulitan yang kita hadapi, namun Tuhan tidak segera menurunkan penyelesainnya, karena ingin mengetahui seberapa besarnya cinta kita pada-Nya,” Ulilamrir Rahman (Yodi, Jannah, Cut Mevi)

Editor : Cynthia Ramadhani