Jangan Takut, Masa Lalu Bukan Hantu!

Ilustrasi : Max

Darussalam“Tidak perlu berusaha untuk melupakan, kenangan punya cara sendiri untuk menghilang,” ucap Mario Teguh.

Ungkapan itu begitu menenangkan hati dan pikiran bagi mereka yang sedang mencoba berdamai dengan masa lalu. Bagi mereka yang masih berlarut tenggelam dalam kenangan di masa lalu, pernah sekalinya terpikir dalam benak, memiliki mesin waktu seperti di film Doraemon sungguh sangat membantu. Apalagi kalau bisa kembali ke masa lalu dan memperbaiki hubungan dengan mantan banyak hal keliru yang pernah dilakukan. Walau nyatanya, dunia bukan sekedar imajinasi yang mudah untuk kita rangkai.

Kehidupan manusia memang tidak terlepas dari pengalaman di masa lalunya. Pengalaman di masa lalu merupakan guru terbaik bagi manusia dalam menjalani kehidupan di masa sekarang. Meski demikian, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk terus-terusan terkurung dalam masa lalu apalagi menjadikan kita terus mengingat kenangan buruk beserta penyesalannya. Kenangan itu sendiri hadir sebagai pembelajaran bukan penyesalan.

Setiap orang berbeda-beda dalam mendefinisikan masa lalu. Sebagian orang menganggap masa lalu bukanlah hal yang penting, sementara bagi sebagiannya lagi masa lalu menjadi hal yang begitu penting untuk dikenang. Sebenarnya masa lalu tidak harus diperdebatkan penting tidaknya dalam kehidupan manusia. Cukup jadikan masa lalu sebagai pembelajaran untuk menjalani masa depan yang lebih baik lagi agar tidak terulangnya kesalahan yang dilakukan di masa lalu.

Memang tidak akan mudah bangkit dari bayang-bayang masa lalu, tapi bukan berarti kamu tidak bisa melakukannya. Mungkin beberapa orang memiliki cara tersendiri agar dapat berdamai dengan masa lalunya —yang pasti bukan dengan cara pergi ke dukun. Ada banyak cara agar kamu dapat menerima kenyataan pahit dan kesalahan di masa lalu;

Pertama, cobalah lepaskan segala emosimu.

“Menangislah. Lalu bangkitlah!” -Akagami No Shanks.

Untuk One Piece mania.. Mantap!!! Pasti sangat familiar dengan kata-kata Shanks tersebut. Mungkin sebagian besar orang lebih suka memendam amarahnya saat dihadapi dengan permasaalahan besar yang membuatnya anxiety, sadness, overthinking dan ribuan jenis istilah sedih lainnya. Padahal, dengan mengabaikan emosi bukan cara yang tepat untuk kamu lakukan. Itu hanya membuatmu berlarut-larut dalam kubangan kesedihan dan tidak membuatmu maju.

Melepaskan emosi yang terpendam tersebut adalah cara yang tepat, kamu akan mendapatkan rasa lega setelah menangisi kesalahan dan kebodohan yang telah kamu perbuat.

Kedua; Belajar dari pengalaman, kalo dari quotes-quotes di mbah google katanya “guru yang paling baik adalah pengalaman. Ambilah pelajaran yang dapat kamu petik dari masa lalu dan mengenal lebih dalam tentang apa saja yang dirimu butuhkan bukan apa saja yang orang lain katakan. Lakukan apa yang membuatmu bahagia, lalu tinggalkan lingkungan toxic yang justru malah membuatmu semakin terpuruk dan merasa bersalah.

Ketiga; Kamu juga harus selalu berpikir positif, karena dapat memberi pengaruh yang baik untuk keadaan psikologis kamu sendiri. Lihatlah sisi baiknya, masalah apa pun dapat datang kapan saja dan di mana saja, kamu hanya perlu fokus pada hal-hal baik yang ada di balik persoalan tersebut. Jangan sampai pikiran itu malah mendatangkan pikiran negatif yang dapat membuatmu semakin terpuruk dan under pressure seperti lagunya Queen.

Keempat; Berhenti menyalahkan diri sendiri, perilaku ini juga menjadi salah satu pemicu timbulnya stres hingga depresi. Hidup yang terus menerus menyalahkan diri sendiri tentu tidak nyaman, ketika kamu memosisikan diri sebagai korban atas sebuah kejadian. Ini hanya membuatmu semakin terpuruk dan tidak bisa bahagia.

Masa lalu biarlah berlalu, seperti lagu The Beatles, “Let it be, let it be,….”

Kamu punya kendali penuh atas dirimu sendiri, jadi berhentilah menyalahkan diri sendiri dan terus melangkah maju. Fokuslah bergerak maju dengan melupakan kejadian yang telah kamu perbuat, apapun yang terjadi jangan pernah menengok ke belakang dan kubur dalam-dalam masa lalumu.

Editor : Abi Rafdi