Kisah Raihan Menilik Peluang Bisnis Ricebowl Kekinian

(Ilustrasi : Max / Perspektif)

Darussalam – Chicken katsu adalah kuliner berupa ayam goreng ala negeri samurai. Kehadirannya banyak digemari oleh anak muda di Indonesia. Namun, bagi negara kita tidak lengkap rasanya jika makan tanpa nasi sebagai makanan pokok. Nah,  apakah akan sesuai jika Chicken Katsu dijadikan sebagai menu makan siang jaman sekarang?

Hal tersebut yang sedang dijadikan terobosan oleh Raihan Zuhdi, seorang mahasiswa jurusan Manajemen yang sedang menjalani bisnis dalam bidang kuliner, Ricebowl Chicken Katsu lebih tepatnya. Berawal dari hanya rencana-rencana kecil dalam benak saja hingga akhirnya ia ditunjukkan jalan setelah ada tugas dari salah satu dosen ekonomi untuk membuat sebuah laporan keuangan penjualan, dari tugas itu akhirnya Raihan manfaatkan untuk membuka gerai makanan kecil-kecilan, sangat klise memang tapi begitulah segala planning ini bermula.

“Kebetulan dulu sedang ada bazar/event di SMA 3 Banda Aceh dari situlah kita test untuk berjualan Ricebowl Chicken Katsu” tutur Raihan

Tentu untuk memulai bisnis ini Raihan tidak melakukannya dengan seorang diri, untungnya ia memiliki teman yang ahli dalam bidang kuliner. Hal ini pun membuat Raihan menjadi semakin optimis untuk menjalankan usahanya tersebut. Untuk sistem pemesanan pun dilakukan dengan pemanfaatan media online yaitu penjualan melalui pre-order. Setelah adanya launching outlet Chicken Katsu ini di daerah Lamprit, bisnis kuliner yang dulunya hanya di targetkan pada kalangan siswa/i SMA ini kini semakin berkembang. Dengan berjalannya waktu, kini kuliner ini tidak hanya terkenal dikalangan mahasiswa saja, tapi juga dikenal oleh kalangan umum lainnya untuk order makan siang seperti ibu rumah tangga dan para pekerja bank di sekitar outlet Lamprit tersebut.

Kegiatan usaha yang sedang Raihan geluti saat ini pun tidak membuat ia dan temannya merasa terganggu untuk membagi waktu kuliah dan usahanya dengan sistem yang ia buat. “Untuk bahan-bahan yang digunakan itu biasanya kita beli setelah jam kuliah, kan kita jual dengan sistem pre-order jadi ada perkiraan untuk berapa biaya belanja dan penjualan yang dilakukan”. Jika kegiatan belanja telah selesai Raihan juga tidak terpaku akan bisnisnya ini, ia masih sering berkumpul dengan teman-temannya untuk membahas bisnis maupun hanya sekedar menghabiskan waktu dengan ngopi-ngopi santai dan melaksanakan hobi touringnya ala-ala anak muda kekinian.

Raihan mengaku mendapat banyak sekali ilmu setelah terjun langsung didunia bisnis kuliner ini, mulai dari cara berkomunikasi kepada costumer hingga wawasan yang lebih luas dalam bidang kewirausahawan melalui praktek yang ia lakukan.

Dalam menjalankan roda bisnis, tak jarang ia harus mengalami hambatan. Baru-baru ini, situasi corona harus membuat omset dari usahanya tak sebaik hari-hari biasa, hal ini terjadi karena outlet yang ia miliki harus tutup untuk sementara waktu atas himbauan yang dikeluarkan oleh pemerintah setempat. Nah, hal itu rupanya tak mematahkan semangat Raihan, dia akhirnya mencari alternatif lain yang bisa terus ia jalankan untuk melancarkan usahanya, Yaps kini Raihan tetap berjualan via online saja.

Bisa dibilang keadaan ini tidak menyusutkan semangat Raihan untuk terus berwirausaha, dengan keadaan yang kini ia hadapi ia terus berusaha untuk menaikkan tingkat eksistensi bisnis kulinernya itu.

“Semoga dengan awal mula 1 outlet kecil kami ini, kami mampu untuk membuka cabang yang lebih banyak lagi serta jika lebih baiknya kami ingin membangun restoran ala anak muda saat ini” tutupnya dengan penuh semangat.

Semoga segera terwujud ya! (Anggi & Tuty)

Editor : Jamaludin Darma