Penumpang Gelap Mobil Jenazah

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Selalu ada cerita dari mereka yang pekerjaannya berkelut dekat dengan jenazah.

Fahri adalah pemuda Masjid yang sudah 5 tahun bekerja menjadi karyawan lepas di sebuah Puskesmas di gampongnya. Selama bekerja di sana, ia selalu menolak untuk mengerjakan pekerjaan yang berkaitan dengan kematian. Terutama seperti matinya kutu orang-orang yang disebabkan oleh kecelakaan. Maka itu Fahri ditempatkan di bagian pelayanan ibu dan anak, ia lebih sanggup menerima kerempongan dan teriakan balita-balita unyu nan mengesalkan ketimbang suara-suara desis aneh yang kerap kali menyelimuti jenazah.

Hari itu, Fahri harus lembur hingga malam guna menyiapkan obat dan vaksin untuk kegiatan Posyandu esok pagi. Malam itu adalah malam Selasa, tidak terlalu menyeramkan bagi Fahri karena ia percaya bahwa malam yang paling seram ialah malam Jum’at bukan yang lainnya.

Tiitt, Tiiit, suara klakson mobil jenazah tiba-tiba muncul. Fahri terkejut setengah hati mati, ia pun bergegas mengintip melalui jendela ke arah depan. Rupanya Hadi, ia adalah supir Puskesmas gampong yang biasa  kerjaannya mengangkut mayat dari rumah sakit di kota untuk dibawa ke rumah keluarga si mayat.

“Ngapain ko transit di sini? Itu ada isinya gak?” tanya Fahri sambil menununjuk ke mobil jenazah.

“Haus aku bang, lupa bawa dompet makanya ke sini mau minta sama abang. Tenang, hari ini ga ada bang,” jawab Hadi santai.

“Yaudah ko kawani aku ya malam ni masukkan obat ke dalam plastik untuk imunisasi besok. Ada lebih kubuat kopi tadi, ambil aja,” ujar Fahri.

Setengah jam berlalu, hujan deras pun datang tanpa permisi. Suasana yang awalnya normal seketika berubah menjadi ganjil. Hujan terus mengguyur deras malam itu, lampu puskesmas yang mulanya memang redup kini seakan benar-benar mau mati. Fahri dan Hadi pun saling bertatap melempar senyum ganjil dan terus bekerja tanpa obrolan apapun, berharap pekerjaan mereka cepat selesai hingga dapat pulang kerumah.

Hujan berhenti tanpa pamit, pekerjaan mereka pun selesai. Namun telepon Hadi tiba-tiba berdering

“Iya pak? Di mana? Harus malam ini dijemput ya pak? Baik pak, segera.” Hadi menutup teleponnya dengan wajah kecewa dan kembali menatap Fahri dengan penuh harapan.

“Apa ko? Tak mau aku kawani, banyak kerjaanku masih. Mau kusambung di rumah,” jawab Fahri ketus.

“Bang, pengertianlah. Balas kebaikan itu budaya kita,” rayu Hadi dengan mata berkaca-kaca.

“Alah, mampuslah aku. Jangan ko ucap macam itu, tak enak aku. Yasudah ku sini kawani, cepat-cepat kau bawa jangan lambat,” pungkas Fahri dengan terpaksa.

Mereka berdua pun segera pergi ke rumah sakit di Kota secepat kilat, dan membawa jenazah yang baru meninggal tersebut ke rumah keluarganya di gampong sebelah. Begitu masuk perkampungan rumah duka, Hadi segera memarkir mobil jenazah di depan pintu rumah. Harapannya, agar jenazah bisa dengan mudah diangkut oleh pihak keluarga untuk dibawa ke dalam rumah.

Suasana cukup lengang, meski tenda dan beberapa kursi untuk pelayat keesokan harinya sudah disiapkan tetangga. Beberapa tetangga keluarga almarhum sepertinya sudah tidak di lokasi. Hanya sedikit kerabat-kerabat yang masih bertahan “menyambut” kedatangan almarhum dikarenakan malam sudah cukup larut.

Setelah mengantarkan jenazah, Hadi dan Fahri pun bergegas pamit untuk pulang. Di perjalanan pulang sambil menyulut rokok, Fahri pun mulai membuka obrolan perihal pengalaman pertamanya mengantar jenazah bersama Hadi. Ia sungguh tak menyangka bahwa mengantar jenazah tidaklah seseram yang ia pikirkan, ia pun lega karena hal yang selama ini ia takutkan tidak terjadi.

“Ngomong-ngomong, ini malam Selasa bang,” ucap Hadi.

“Kenapa memangnya? Yang seram itu kan Jum’at Kliwon,” jawab Fahri sambil mengisap rokoknya

“Salah bang, Selasa Kliwon yang paling seram. Konon, menurut primbon jawa orang yang meninggal tepat di malam Selasa Kliwon kuburannya bakal diburu pencari jimat untuk diambil beberapa bagian tubuhnya, atau kain kafannya yang dipakai sebagai mahar pesugihan. Dan itu malam ini bang, Malam Selasa Kliwon,” Hadi menerangkan.

“Sialan, cukuplah! Mana ada itu, lagipula jenazahnya sudah kita antar ke rumahnya. Tak mungkin dia masuk lagi ke mobil, karena gamau dikuburkan malam ini,” tutup Fahri dengan tegas namun cemas.

Suasana dalam mobil jenazah pun berubah, dalam keadaan sepi dan gelap gulita, Hadi mulai merasa ada yang tak beres. Apalagi di jok belakang sopir, Hadi  merasa mobilnya masih mengangkut muatan. Kecurigaan ini muncul karena saat tanjakan, mobil jenazah yang dia bawa terasa cukup berat. Padahal, normalnya, jika dalam keadaan muatan kosong, mobil harusnya jalan lancar. Apalagi hanya membawa Fahri yang beratnya tidak seberapa itu.

Saat mereka melewati jalur perbukitan, kemudian di belakang terdengar suara…

“Gedebuk…..!!111!!11!”

Sontak Hadi dan Fahri pun diam dan tak berani menoleh ke belakang, mereka hanya melirik ke spion tengah mobil berharap tidak terjadi apa-apa.

Karena keadaan semakin tidak kondusif, Hadi mempercepat laju mobil jenazahnya. Agar tidak merasa sepi-sepi amat, Fahri berinisiatif  menyalakan lagu-lagu rolling stone agar suasana tidak terlalu mencekam.

Tapi suara benda besar yang jatuh semakin terdengar dalam mobil. Kali ini Hadi dan Fahri tidak berani menengok kebelakang, bahkan melirik kaca spion tengah juga tidak. Beruntung jarak mereka ke Puskesmas tidak jauh lagi, mereka terus jalan hingga akhirnya sampai ditempat mereka bekerja.

Setelah sampai, Hadi pun membuka pintu mobil belakang. Betapa terkejutnya Hadi ketika melihat…

Sesosok tubuh berbaring mengenakan kain putih. Posisinya sudah bukan di atas ranjang di dalam mobil, melainkan sudah jatuh ke lantai mobil.

Setelah diperhatikan dengan seksama, ternyata itu jenazah.Ya jenazah yang tadi mereka antar. Fahri yang mengetahui hal tersebut melirik Hadi dengan wajah pucat pasi.

“Dia kok masih di sini ya? Hehehe”

(M/Perspektif)

Editor : Abi Rafdi