Agusen – Selama bertahun-tahun, warga Desa Agusen di kaki bukit Gayo Lues hidup dalam bayang-bayang ancaman longsor dan banjir. Setiap rintik hujan yang mengguyur selalu membawa ketakutan. Namun kini, ketakutan itu perlahan sirna. Sebanyak 80 mahasiswa Universitas Syiah Kuala (USK) yang tergabung dalam program USK Mengabdi 2026 hadir membawa harapan baru dengan memasang peta mitigasi dan jalur evakuasi di enam titik rawan bencana yang selama ini mengancam keselamatan warga.
Pemasangan yang berlangsung pada 18 hingga 19 Juli 2026 ini menjadi tonggak penting bagi kesiapsiagaan bencana di Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues. Sebanyak delapan tiang jalur evakuasi kini berdiri kokoh di enam titik longsor dan banjir, memandu warga menuju dua titik kumpul aman yang telah ditentukan di Dusun Toa dan Dusun Uken. Dengan petunjuk yang jelas dan terstruktur, warga tidak lagi dibiarkan bingung saat bencana datang. Ketika hujan deras mengguyur dan tanah mulai bergerak, mereka tahu persis ke mana harus berlari. Jika ada anggota keluarga yang terpisah dalam kepanikan, titik kumpul telah menjadi patokan bersama untuk bersatu kembali.
Ama, seorang warga Dusun Toa yang rumahnya berada persis di kawasan rawan longsor, mengaku selama ini setiap musim hujan selalu terbayang-bayang longsor. “Setiap kali hujan deras, saya tidak bisa tidur nyenyak. Saya takut tanah di belakang rumah saya longsor. Kadang saya hanya bisa pasrah,” ujarnya dengan suara bergetar. Namun kini, di usianya yang senja, ia merasa ada yang berubah. “Sekarang dengan adanya jalur evakuasi ini, saya jadi tahu ke mana harus pergi jika bencana datang. Saya tidak sendiri lagi. Ada yang peduli dengan kami,” imbuhnya sambil tersenyum haru.
Peta mitigasi ini disusun oleh Ivanda Satria, mahasiswa Program Studi Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala, dengan dukungan tim serta koordinasi dari Muharo Sunandar selaku Koordinator Program Kerja dan Aril Akram selaku Penanggung Jawab dari Program Studi Teknik Sipil USK. Dikerjakan dengan sangat teliti menggunakan sistem koordinat WGS 1984 Universal Transverse Mercator (UTM) Zona 47N dan skala 1:12.000, peta ini memuat informasi lengkap mengenai titik longsor, area banjir, jalur evakuasi, serta lokasi fasilitas umum untuk perlindungan sementara. Pembuatan dan pemasangan peta ini juga merupakan hasil kerja sama antara tim USK Mengabdi 2026 dengan Yayasan HaKa (Hutan Alam dan Lingkungan Aceh). Kolaborasi lintas disiplin ilmu ini menjadi bukti nyata bahwa mahasiswa mampu menghasilkan karya luar biasa yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat.
Masjid, Hunian Sementara (Huntara), SD Negeri 12 Blangkejeren, SMP Negeri Satap Agusen, hingga Kantor Penghulu Desa Agusen kini terpetakan dengan jelas sebagai tempat yang aman. Selain itu, Jembatan Dusun Uken, Jembatan Dusun Toa, dan Jembatan Ekowisata Agusen diidentifikasi sebagai infrastruktur krusial penghubung jalur evakuasi. Hal ini memastikan warga memiliki rute alternatif untuk menyelamatkan diri saat bencana terjadi.
Penghulu Desa Agusen, Ramadhan, S.Pd., menyambut inisiatif ini dengan haru dan bangga. Ia menyampaikan apresiasi mendalam atas dedikasi para mahasiswa. “Ini adalah bukti nyata bahwa anak-anak muda masih peduli dengan keselamatan kami. Kami tidak akan pernah melupakan jasa mereka. Semoga peta dari tim USK Mengabdi ini memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” ujarnya penuh harap.
Seluruh peserta USK Mengabdi 2026 juga berharap pemerintah daerah Gayo Lues dapat menindaklanjuti program ini dengan langkah nyata berupa rehabilitasi dan rekonstruksi berdasarkan peta yang telah ada. Daerah-daerah yang teridentifikasi rawan longsor dan banjir harus segera mendapatkan perhatian serius. Perbaikan infrastruktur, normalisasi sungai, dan pembangunan tembok penahan longsor menjadi keniscayaan agar ancaman ini tidak terus berulang. Meskipun untuk sementara masyarakat sudah tidak bingung lagi ke mana harus berkumpul, harapan terbesar tetap tertuju pada tindakan pemerintah yang berkelanjutan. Dengan adanya peta ini, arahan kepada masyarakat menjadi lebih jelas dan terstruktur, kepanikan dapat diminimalisir, dan nyawa dapat diselamatkan.
Para mahasiswa juga berpesan agar peta tersebut senantiasa dijaga dan dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya oleh seluruh elemen masyarakat. Mereka berharap kesadaran kolektif tentang mitigasi bencana terus tumbuh, tidak hanya di Desa Agusen, tetapi juga di seluruh wilayah rawan bencana di Aceh.
Proses pembuatan peta dilakukan dengan pendekatan partisipatif yang melibatkan masyarakat. Mahasiswa turun langsung ke lapangan, menyusuri setiap sudut desa, berdialog dengan warga, dan berkoordinasi dengan aparat desa untuk memastikan peta yang dihasilkan benar-benar sesuai dengan kondisi riil di lapangan. Setiap titik longsor, setiap genangan banjir, dan setiap celah jalan dicatat dengan saksama. Inilah yang membuat peta ini tidak hanya akurat secara teknis, tetapi juga relevan secara sosial.
Dengan terpasangnya delapan tiang evakuasi dan tersedianya peta mitigasi yang komprehensif, masyarakat Desa Agusen kini memiliki pegangan yang jelas dalam menghadapi potensi bencana. Mereka tidak lagi dibiarkan sendirian dalam ketakutan. Semangat “Mengabdi untuk Pulih, Bergerak untuk Bangkit” yang diusung oleh USK Mengabdi 2026 benar-benar terwujud dalam aksi nyata yang menyelamatkan dan memberdayakan. Program ini diharapkan menjadi inspirasi bagi mahasiswa lain di seluruh Indonesia untuk turut berkontribusi dalam mitigasi bencana di daerah masing-masing, membuktikan bahwa ilmu pengetahuan dan kepedulian dapat berjalan beriringan untuk menciptakan perubahan yang berarti.









