Sejauh Mana Ormawa FEB USK Menjadi Pantauan Satgas COVID-19?

Ilustrasi by : Mrama

Darussalam – Sejak ditetapkan pandemi Covid-19 pada bulan Maret tahun lalu, banyak sektor yang terkena imbasnya hingga terpaksa dihentikan sementara. Pendidikan salah satu yang paling terkena dampak Covid-19. Kelangsungan dunia pendidikan mulai berubah total dari belajar-mengajar dengan metode tatap muka hingga kita diperkenalkan teknologi yang mengharuskan kita untuk mempelajarinya dikala pandemi saat ini. Ini merupakan tantangan untuk kita semua untuk mulai beradaptasi agar memutus rantai penularan Covid-19.  

Seiring waktu berjalan, secercah harapan mulai datang. Berkurangnya kasus infeksi virus Corona, perkuliahan pun mulai dilakukan secara tatap muka. Artinya beberapa universitas sudah memberlakukan kembali kuliah tatap muka, termasuk Universitas Syiah Kuala (USK). Kabar baik tersebut disambut hangat oleh sejumlah mahasiswa yang telah rindu untuk memulai pembelajaran langsung di dalam kelas. Dengan dilaksanakannya perkuliahan tatap muka ini, kegiatan Ormawa (Organisasi Mahasiswa) pun mulai berjalan. Bermula dari dibukanya proses penerimaan anggota baru pada beberapa Ormawa yang ada di lingkungan kampus Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB).

Umumnya sejumlah Ormawa memiliki kendala yang sama, yaitu banyaknya kegiatan yang harus ditunda akibat pandemi. Kendala utama yang saling dirasa oleh Ormawa di FEB adalah proses perekrutan anggota yang biasanya dilakukan pada semester ganjil terpaksa dilakukan pada semester genap, hal ini tentu menghambat banyak kegiatan lainnya. Meski telah diberlakukannya kuliah offlinebukan berarti kegiatan-kegiatan Ormawa dapat pulih seperti semula. Nyatanya, beberapa kegiatan diminta untuk tetap dilaksanaan melalui daring, hingga penolakan pemberian izin berkegiatan dari satgas lingkungan kampus. Sontak sejumlah Ormawa merasa kecewa atas kebijakan tersebut hingga timbul pertanyaan sejauh mana Ormawa FEB menjadi pantauan satgas Covid-19? Benarkah larangan ini hanya terjadi di fakultas kita?

Menyikapi hal ini, Farhul selaku ketua DPM FEB USK member penjelasan bahwa proker-proker yang sudah disahkan di rakor sebelumnya akan tetap diupayakan agar dapat terlaksana dengan baik, walaupun ada beberapa hal yang harus disesuaikan seperti pelaksanaan kegiatan secara daring maupun luring, tentunya pihak DPM fakultas juga akan berkoordinasi dengan pihak DPMU terkait perkembangan kondisi saat ini.

Farhul juga menambahkan bahwa hambatan utama di semua kegiatan ormawa saat ini adalah perizinan dari satgas Covid-19. 

“Untuk proses perizinan dapat dikatakan masih lumayan rumit, alurnya mulai dari melakukan koordinasi dengan pihak dekan, dilanjut dengan biro kemahasiswaan dan sasaran terakhir yaitu pihak satgas COVID-19 sendiri. Setelah mendapat rekomendasi kegiatan memenuhi standar protokol kesehatan, barulah program dapat dijalankan,” jelas Farhul menambahi.

Adapun menurut penuturan ketua BEM FEB, Arief Ramadhan pada 25 April lalu, pengawasan dari satgas Covid terhadap ormawa pada lingkungan FEB USK memang sedikit lebih diawasi dari fakultas lain, hal ini dipercaya karena sulitnya mendapatkan izin dari satgas covid untuk melakukan kegiatan. Kendati demikian, tidak ada info atau hal konkret secara langsung dari satgas Covid-19 yang melakukan pengawasan “spesial” terhadap Fakultas Ekonomi, hanya saja berdasarkan analisa dan survei kepada fakultas-fakultas lain bahwa FEB lebih dipantau dikarenakan kemungkinan intensitas kegiatannya yang dinilai tinggi.  

Untuk mensiasati masalah pemberian izin ini, BEM FEB telah memberikan format yang harus dilengkapi oleh tiap-tiap Ormawa di lingkungan FEB sebagai penjelas mengenai protokol kesehatan selama kegiatan yang akan dilakukan. Format-format yang harus dilengkapi ini dapat berguna untuk audiensi dengan satgas covid nantinya. 

“Harapan saya kedepannya kegiatan mahasiswa jangan dipersulit, toh mahasiswa berkreasi untuk mahasiswa juga, untuk kampus juga. Ada hadist mengatakan Barang siapa yang mempersulit umat, maka Allah akan menyusahkan dia jadi jangan sampai dibatasi, biarkan mahasiswa membuat kegiatan, mengaplikasikannya ke lapangan dari apa yang sudah kita pelajari. Jangan sampai kita lost generation, itu hal yang sangat menyedihkan bagi kita. Untuk kawan-kawan mahasiswa tetap semangat dan jangan putus asa, Inshaa Allah semua ada jalannya, kita maju ke depan secara beriringan. Namun, tetap berhati-hati dan jangan sampai membuat rakyat resah, karena mahasiswa berbuat untuk rakyat, jika rakyat resah dengan mahasiswa lalu hak siapa yang harus mahasiswa perjuangkan lagi? pungkas ketua BEM FEB ini.

Singkatnya, Ormawa yang ada di FEB USK tidak benar-benar diawasi secara khusus oleh satgas Covid-19 kampus. Hanya saja berdasarkan pengamatan, birokrasi dan pemberian izin cenderung dipersulit sehingga tampaknya seperti ada pengawasan yang dikhususkan ke Fakultas Ekonomi, di luar hal itu satgas hanya menjalankan tugasnya. Pada dasarnya, pergerakan ormawa-ormawa FEB USK memang menjadi terbatas di tengah pandemi Covid-19. Namun, itu semua tidak lantas membuat semangat mahasiswa pecinta organisasi ini meredup, harapan untuk pihak rektorat untuk lebih sedikit mempermudah dalam pemberian izin. Karena sesungguhnya kegiatan-kegiatan ormawa ini juga merupakan ajang mahasiswa untuk tumbuh dan mengembangkan potensi yang ada pada diri mereka. Lantas untuk apa berorganisasi kalau tidak dapat berkreasi? (Perspektif/ Moes&Min)

Editor : Jannah