Darussalam — Program Studi Doktor Ilmu Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala (USK) menggelar Focus Group Discussion (FGD) secara daring melalui Zoom pada Selasa (13/10/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi ketercapaian visi, misi, tujuan, dan sasaran (VMTS).
Dalam diskusi tersebut, Prof. Desi Adhariani, S.E., M.Si., Ph.D., Guru Besar Universitas Indonesia (UI), menyarankan agar target internasional program dirumuskan secara bertahap dan sistem penilaian diperkuat. Ia menilai arah pengembangan program dan rancangan kurikulumnya telah selaras, tetapi visi untuk mencapai “tingkat global” perlu diterjemahkan ke dalam tonggak capaian yang terukur. Sebagai tahap awal, Asia Tenggara dapat dijadikan tolok ukur sebelum program memperluas sasarannya. Peta jalan tersebut, menurutnya, dapat disusun tanpa mengubah visi universitas.
Menurutnya penting untuk mendorong agar program studi tidak hanya menghitung jumlah kegiatan dan publikasi, tetapi turut menilai dampak penelitian terhadap pengembangan ilmu, kebijakan, masyarakat, dan industri. Evaluasi perlu didukung indikator dan target yang jelas, bukti capaian, analisis kesenjangan, serta tindak lanjut yang terdokumentasi untuk mendukung persiapan akreditasi.
Pembahasan lain mencakup rubrik penilaian, terutama untuk tahapan disertasi yang tidak dilaksanakan melalui perkuliahan tatap muka. Program studi juga perlu menetapkan kriteria penilaian capaian pembelajaran secara konsisten. Peserta diskusi turut menyoroti perlunya membandingkan praktik di perguruan tinggi lain sebagai bahan penyusunan rubrik ujian proposal, hasil, dan disertasi.
Ketua Program Studi Doktor Ilmu Akuntansi, Dr. Fazli Syam BZ, S.E., M.Si., Ak., CA., Cert.DA., menyampaikan bahwa program tersebut telah menerima dua angkatan: 7 mahasiswa pada 2025 dan 14 mahasiswa pada 2026. Program ini juga menawarkan beberapa bidang peminatan, di antaranya akuntansi kebencanaan dan akuntansi kesehatan.
Ia menyebut kurikulum dirancang agar mahasiswa dapat menuntaskan studi dalam enam semester. Pengelola menjelaskan bahwa beban studi wajib program berjumlah 57 satuan kredit semester (SKS), sementara angka 61 SKS dapat mencakup mata kuliah tambahan yang diambil mahasiswa.
Ia juga menyatakan akan menindaklanjuti masukan FGD, antara lain dengan menyusun rubrik penilaian dan menghimpun umpan balik dari mahasiswa, alumni, dosen, serta pemangku kepentingan.
Perspektif/ Nadya Hervina Gunawan
Editor: Aliza Riski Aulia











