Memasuki Semester Genap 2020, FEB Unsyiah Tiadakan Kuliah Hari Sabtu

Ilustrasi : google

Darussalam – Semester baru, semangat baru. Mahasiswa sudah memulai rutinitasnya kembali di dunia perkuliahan. Usai melewati semester ganjil, Unsyiah sedikit memodifikasi jadwal kuliah untuk semester genap ini.  Jika semester lalu jadwal kuliah yang berlaku adalah Senin-Sabtu, maka semester ini diberlakukan jadwal kuliah Senin-Jumat.

Kebijakan ini diberlakukan lantaran banyaknya keluhan mahasiswa maupun para dosen perihal jadwal kuliah yang berlaku hingga hari Sabtu terasa kurang efektif dan efisien. Pasalnya menurut beberapa keluh kesah yang diterima pihak kampus, hari Sabtu merupakan hari weekend bagi para dosen maupun mahasiswa.

Namun, jika berbicara tentang kebijakan yang baru sudah pasti bakal mengundang komentar dari beberapa mahasiswa yang merasakan dampak dari kebijakan tersebut. Menurut mahasiswa itu sendiri, ada dampak baik dan buruk yang mereka rasakan setelah mengikuti perubahan jadwal kuliah yang hanya berlaku hingga hari Jumat saja.

Ketika jadwal kuliah hanya sampai hari Jumat, otomatis Mata Kuliah (MK) dipadatkan sampai sore hari. Bahkan, ada mahasiswa yang terpaksa menunaikan Salat Magrib di perjalanan pulang karena jarak antar kampus dengan tempat tinggal mereka yang terpaut cukup jauh. Hal ini dapat membahayakan para mahasiswa, terutama para mahasiswi. Terlebih dari itu, banyak orang tua yang komplain karena khawatir anaknya terlambat sampai ke rumah.

Lalu bagaimana dampak baik dari kebijakan ini?

Sebagai seorang mahasiswa, khususnya bagi anak perantauan sudah pasti mengharapkan hari libur. Sebab, hari libur adalah saat bagi mereka akan bersantai sambil mengerjakan tugas yang belum sempat mereka kerjakan pada hari biasanya. Selain itu, para dosen juga butuh waktu berkumpul dengan keluarga pada akhir pekan.

Lantas apa yang menyebabkan Unsyiah meliburkan hari Sabtu?

“Sekarang kita sudah menggunakan sistem Badan Layanan Umum (BLU), di dalam sistem ini dosen tidak lagi dibayar honor tetapi dibayar berdasarkan hitungan poin. Jadi, ada target poin yang harus dipenuhi agar dosen dapat dibayar. Jika poin sudah melebihi target yang ditentukan, maka hanya poin yang sudah ditetapkan dari awal saja yang dibayar dan sisanya dianggap sedekah mengajar,” jelas Dr. Abd. Jamal, S.E., M.Si. selaku Wakil Dekan I FEB Unsyiah.

“Kuliah di hari Sabtu ditiadakan karena itu hari libur sehingga dosen tidak dibayar ketika mengajar,” tambahnya.

Dar sisi mahasiswa, hal ini juga disambut cukup baik. “Kebijakan ini cukup efektif dan membantu meringankan para mahasiswa dan dosen, karena mahasiswa sendiri banyak yang memilih memadatkan jadwal selain hari Sabtu. Untuk para dosen maupun staf akademik juga dapat menikmati akhir pekan dengan santai,” ujar Jihan, mahasiswa Manajemen Angkatan 2018.

Menurut mahasiswa Akuntansi Angkatan 2016, Rizka Yulia, kebijakan ini dapat dimanfaatkan mahasiswa yang aktif di organisasi untuk melakukan kegiatan.

“Dengan ditiadakannya kuliah di hari Sabtu, mungkin kampus menjadi sepi karena kurangnya aktifitas. Tetapi waktu ini biasa dimanfaatkan oleh UKM atau HMJ untuk melakukan kegiatan tanpa harus mengganggu jadwal kuliah,” tutur Rizka.

Meski begitu, setiap prosedur yang diberlakukan pasti memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan berubahnya jadwal kuliah yang padat pada hari Senin-Jumat, kekurangan yang dapat dirasakan adalah karena kelas harus dipadatkan sampai sore hari. Namun, hal ini juga memiliki kelebihan, mahasiswa maupun dosen bisa memiliki waktu luang untuk beristirahat dan berkumpul dengan keluarga. Kendati demikian, semua ini kembali bagaimana sudut pandang kita melihat, ada yang menganggap kebijakan ini bagus dan ada juga yang mengganggap kebijakan ini membuat kampus sepi. (Ika, Aufar, Vanya)

Editor : Jamaludin Darma