Agusen – Di balik hamparan hijau Taman Nasional Gunung Leuser yang megah, tersimpan kisah duka yang belum sepenuhnya pulih. Desa Agusen, Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, masih menyisakan luka akibat banjir bandang yang melanda pada akhir November 2025. Ratusan rumah hancur, jembatan putus, sekolah dan layanan kesehatan lumpuh, dan seluruh warga terpaksa mengungsi. Namun di tengah kepiluan itu, hadir secercah harapan yang dibawa mahasiswa dari dua perguruan tinggi: Universitas Syiah Kuala (USK) dan Universitas Gayo Lues (UGL). Mereka datang bukan sekadar melihat, tetapi untuk membangun kembali.
Selama 14 hari, dari 8 hingga 21 Juli 2026, para mahasiswa yang tergabung dalam program USK Mengabdi 2026 bersama tim dari UGL bahu-membahu memulihkan infrastruktur paling dasar sekaligus paling vital bagi kehidupan warga: jaringan pipa air bersih. Di desa yang terletak di kaki Leuser ini, air adalah denyut nadi kehidupan. Ketika banjir bandang merenggut akses air bersih, masyarakat kehilangan lebih dari sekadar sumber minum. Mereka kehilangan martabat, kesehatan, dan harapan. Kini, perlahan namun pasti, harapan itu mulai kembali mengalir.
Desa Agusen, yang dikenal sebagai salah satu desa wisata arung jeram, menyimpan potensi besar namun juga kerentanan yang tak terelakkan. Berbatasan langsung dengan Taman Nasional Gunung Leuser dan kawasan hutan lindung, desa ini berada di garis depan bencana hidrometeorologi. Banjir bandang November 2025 menjadi mimpi buruk yang nyata. Ribuan meter pipa air bersih yang selama ini menjadi tulang punggung kehidupan warga hancur diterjang tanah longsor dan material banjir. Sumber mata air di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut (mdpl) masih setia mengalir, tetapi jalur yang menghubungkannya dengan pemukiman warga di ketinggian 1.100 mdpl putus total. Warga terpaksa kembali ke masa lalu, berjalan bermil-mil untuk mengambil air dari sungai yang keruh dan tidak layak konsumsi.
Pemasangan pipa ini menjadi bukti nyata kolaborasi lintas perguruan tinggi dan elemen masyarakat. Mahasiswa USK, mahasiswa UGL, Pemerintah Desa Agusen, dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Aceh bersinergi menghadirkan solusi nyata. Program USK Mengabdi 2026 mengusung tema “Mengabdi untuk Pulih, Bergerak untuk Bangkit,” dan tema itu benar-benar terwujud dalam setiap tetes keringat yang tercurah di medan terjal Gayo Lues.
Program USK Mengabdi 2026 merupakan inisiatif dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Syiah Kuala melalui Kementerian Sosial Masyarakat (Sosma) yang sejak awal merancang program ini sebagai wujud nyata pengabdian mahasiswa kepada masyarakat terdampak bencana. Fathan Najwan, mahasiswa Program Studi Teknik Sipil USK, bertugas sebagai koordinator sekaligus penanggung jawab. Ia memimpin tim survei yang terdiri dari Aril Akram, Andi Gerhan, dan Ananda Muhammad Praja, serta berkoordinasi dengan Ketua Panitia USK Mengabdi 2026, Iqbal Setiadi. Seluruh anggota USK Mengabdi 2026 turut ambil bagian dalam pemasangan 300 meter pertama jaringan pipa merupakan sebuah langkah awal yang monumental. Kolaborasi dengan Universitas Gayo Lues (UGL) semakin memperkuat pelaksanaan di lapangan dan membuktikan bahwa sinergi antarkampus mampu melahirkan karya nyata yang berdampak luas bagi masyarakat.
Perjuangan tim tidak pernah mudah. Berdasarkan data pemantauan perjalanan pada 10 Juli 2026, titik awal pemberangkatan menuju sumber mata air berada di koordinat 3.893141° LU, 97.375436° BT. Lokasi bangunan intake tercatat pada koordinat 3.893538° LU, 97.375046° BT. Total jarak tempuh menuju sumber mata air mencapai 3,8 kilometer dengan waktu tempuh 2 jam 4 menit 10 detik. Elevasi tertinggi yang harus dilalui mencapai 1.262 mdpl, sementara elevasi terendah berada di 1.075 mdpl. Medan terjal, tanjakan curam, dan ancaman longsor menjadi pemandangan sehari-hari bagi para mahasiswa yang nekat menembus hutan demi mengembalikan air bagi warga.
Pekerjaan pemasangan pipa mencakup perbaikan dan penyambungan kembali jaringan yang terputus akibat tanah longsor, dengan panjang total jalur pipa sekitar 3,7 kilometer. Setiap sambungan pipa yang terpasang adalah simbol ketekunan. Setiap meter pipa yang berhasil disambung adalah doa yang terpanjatkan untuk keselamatan warga. Tim mengacu pada dokumen perencanaan teknis dari Pemerintah Aceh melalui Dinas Perkim Aceh, dengan judul pekerjaan “Perencanaan Revitalisasi Penyehatan Kawasan Lingkungan Permukiman Terdampak Bencana Kabupaten Gayo Lues.”
Fathan Najwan, koordinator yang memimpin langsung di lapangan, menyampaikan harapannya dengan mata berbinar. “Sebagai koordinator proyek pemasangan jaringan pipa air bersih ini, saya berharap proyek yang telah kami laksanakan dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat desa yang terdampak bencana. Perbaikan dan penyambungan kembali jaringan pipa yang sebelumnya terputus akibat tanah longsor diharapkan mampu mengembalikan fungsi sumber mata air sehingga masyarakat dapat memperoleh akses air bersih yang layak, mudah, dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan keyakinannya bahwa sistem perpipaan yang telah diperbaiki dapat bertahan dalam jangka waktu lama. “Kami telah melakukan survei lapangan yang mendalam dan memperbaiki titik-titik yang sebelumnya menjadi penyebab kerusakan. Saya berharap masyarakat dapat bersama-sama menjaga dan merawat jaringan pipa yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi berikutnya. Kerja sama antara masyarakat, pemerintah desa, dan pihak terkait sangat penting agar apabila terjadi kerusakan di kemudian hari, penanganannya dapat dilakukan dengan cepat sehingga distribusi air bersih tetap berjalan dengan baik,” tambahnya.
Fathan juga menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi. Dinas Perkim Aceh, Pemerintah Desa Agusen, serta seluruh tim mahasiswa USK dan UGL menjadi bagian dari perjuangan ini. “Semoga ikhtiar yang telah dilakukan menjadi amal kebaikan, memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, serta menjadi langkah awal dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan warga desa,” ucapnya dengan penuh harap.
Dengan selesainya pemasangan pipa tahap awal ini, akses air bersih bagi masyarakat Desa Agusen perlahan kembali mengalir. Air yang jernih dari ketinggian Leuser kini kembali menetes di setiap keran warga, membawa serta harapan baru. Anak-anak yang selama berbulan-bulan harus mandi dengan air sungai yang keruh kini kembali tersenyum. Ibu-ibu yang setiap pagi harus berjalan jauh mencari air kini dapat bernapas lega. Desa Agusen perlahan bangkit dari keterpurukan.
Kehadiran mahasiswa USK dan UGL di desa ini membuktikan bahwa pengabdian bukan sekadar kata-kata. Ia adalah aksi nyata yang lahir dari kepedulian dan keberanian. Semangat “Mengabdi untuk Pulih, Bergerak untuk Bangkit” bukan sekadar slogan, tetapi telah menjadi denyut nadi yang mengalir bersama air bersih dari puncak Leuser ke setiap sudut Desa Agusen. Jejak pengabdian ini akan terus dikenang, tidak hanya sebagai proyek infrastruktur, tetapi sebagai simbol bahwa di balik bencana, selalu ada tangan-tangan muda yang siap membangun harapan.









