BeritaOpiniSuara Pembaca

Seni Bertahan: Bangkit dari Kegagalan, Menata Ulang Self-Esteem

×

Seni Bertahan: Bangkit dari Kegagalan, Menata Ulang Self-Esteem

Sebarkan artikel ini
By : Gemini AI

Pernahkah kamu merasa tidak lebih baik daripada orang-orang di sekitar atau sering kali merasa tidak  mampu melakukan apa pun? Seseorang pasti pernah mengalaminya, setidaknya sekali. Biasanya kondisi  psikologis ini muncul ketika seseorang tidak dapat menginterpretasikan penolakan dan kegagalan yang ia  alami, di mana diri merasa tidak mampu dan lebih rendah daripada orang lain untuk melakukan  sesuatu. Dalam kondisi ini, seseorang cenderung merasa tidak berharga dan memberikan penilaian negatif  terhadap dirinya sendiri, sehingga kondisi ini sering kali menggentayangi pikiran. Keadaan psikologis ini berkaitan dengan self-esteem (harga diri) yang rendah.

 Self-esteem merupakan dimensi penilaian global mengenai diri, menurut Santrock tahun 2003 dalam jurnal tulisan Azizah Fitriah dan Dyta Setiawati Hariyono. Pada intinya, self-esteem merupakan penilaian  negatif atau positif yang dimiliki seseorang terhadap dirinya secara menyeluruh. Dengan pemikiran yang  positif, seseorang dapat puas dengan dirinya. Mereka percaya pada kemampuannya dan realistis  dalam menghadapi masalah. Karena inilah mereka jarang menghadapi masalah-masalah psikologis seperti  kecemasan akut dan depresi. Selaras dengan pernyataan tersebut, hasil penelitian yang dilakukan Azizah  Fitriah dan Dyta Setiawati Hariyono menunjukkan adanya korelasi negatif antara self-esteem dengan depresi.  Semakin tinggi rasa harga diri, semakin rendah tingkat depresi, begitu pun sebaliknya. Oleh karena itu, seseorang yang memiliki harga diri yang tinggi akan  dapat mengatasi tekanan karena memiliki kemampuan untuk bangkit yang lebih tinggi  dibandingkan dengan seseorang yang memiliki pemikiran bahwa harga dirinya rendah.

Dalam analisis tiga belas jurnal internasional yang dilakukan oleh Vivin Ariyanti dan Budi Purwoko,  tingkat self-esteem seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik internal maupun eksternal. Berdasarkan  faktor internal, harga diri seseorang dipengaruhi oleh bakat (keahlian individu dalam suatu bidang),  psychological well-being (kesehatan psikologis individu berdasarkan pemenuhan keberfungsian psikologis  positif), emosi positif, kepuasan dalam menjalani hidup, perasaan malu, persepsi terhadap diri, partisipasi  dalam olahraga (kegiatan fisik), manajemen emosi yang baik, kontrol diri terhadap peristiwa yang dialami,  dan perasaan kesepian. Regulasi internal yang baik akan sangat berpengaruh terhadap tingkat self-esteem seseorang. Mereka yang mampu mengendalikan diri secara optimal akan memiliki tingkat kecemasan yang  rendah karena memiliki harga diri yang tinggi. Berdasarkan faktor eksternal, self-esteem seseorang juga dipengaruhi oleh hubungan sosial,  penggunaan media sosial, hubungan dalam pertemanan, masa kanak-kanak, tekanan psikologis yang diperoleh  dari lingkungan, dan hubungan interpersonal. Hal ini menunjukkan bahwa faktor eksternal juga memiliki pengaruh yang  signifikan. Lingkungan dan interaksi sosial yang positif akan menjadi faktor yang mendukung peningkatan self-esteem mereka. Namun, akan ada kondisi di mana lingkungan tidak memberikan pengaruh positif. Contohnya, saat mengalami kegagalan, lingkungan sekitar  bisa saja menghakimi daripada memberikan dukungan.

Harga diri seseorang juga dapat mengalami perubahan karena peristiwa tertentu, contohnya seperti saat mengalami keberhasilan akan meningkatkan self-esteem, sementara kegagalan akan mengurangi rasa bernilai terhadap diri sendiri. Ketika mengalami kegagalan, ada banyak cara yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-esteem,  seperti positive thinking, mengatur emosi negatif dengan baik, bersikap baik pada diri sendiri, menerima diri,  merasa mampu, dan tidak membandingkan diri dengan orang lain. Ketika mengalami kegagalan, jangan  biarkan perasaan negatif mengikis harga diri. Gunakan afirmasi positif untuk mengatasi perasaan rendah diri dan hindari  memvonis kegagalan yang dialami sebagai kesalahan dalam  hidup. Alih-alih mengatakan “aku idiot,  lemah, dan gagal”, ganti kalimatmu menjadi “Kegagalan adalah hal yang wajar dialami. Kali ini saya  memberanikan diri untuk melakukan kesalahan dan belajar dari kesalahan.” Namun, jangan gunakan afirmasi  positif secara berlebihan, karena penggunaan afirmasi positif yang terlalu tinggi tidak memberikan efek positif terhadap harga diri.

Dalam kehidupan, kecewa dan gagal adalah sesuatu yang lazim menimpa seseorang. Ketika masalah  mampu diinterpretasikan dengan baik, ia akan menjadi pembelajaran paling berharga. Pepatah pernah  berkata dengan bijak bahwa, “Jangan pertaruhkan harga diri dalam setiap usaha yang kamu lakukan jika tidak ingin kehilangan  harga dirimu. Kenali dan terima dirimu apa adanya. Apabila merasa cukup sulit untuk mengatasi perasaan  rendah diri, konsultasikan dengan psikolog sehingga dapat membantumu meningkatkan harga  diri’’.

Penulis: Dinda Humairah Aznun

Editor: Aisyah Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *