Opini

Tiyo Ardianto: Siapa Mahasiswa ini Sebenarnya?

×

Tiyo Ardianto: Siapa Mahasiswa ini Sebenarnya?

Sebarkan artikel ini
By TEMPO

Darussalam- Sejak kritik kerasnya pada proyek mercusuar Prabowo, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), nama Tiyo Ardianto mencuat di jagat media. Mahasiswa Ilmu Filsafat tersebut sangat keras menanggapi kebijakan pemerintahan, terutama soal MBG. Terlihat bagaimana ia menyuarakan kritiknya dalam salah satu diskusi publik, Sejatinya SPPG itu adalah Satuan Penjilat Prabowo-Gibran.

Kritiknya terhadap pemerintah tidak hanya berhenti pada dirinya. Tiyo adalah Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM sejak Februari 2025. Dengan posisi tertinggi tersebut, ia mengajak teman-teman mahasiswa untuk ikut menyuarakan aspirasinya. Terlihat dari langkah BEM UGM yang menyurati United Nations Children’s Fund (UNICEF) dengan diksi “bodoh” untuk mendeskripsikan kebijakan Prabowo.

Tentu saja “bodoh” di sini punya maksud yang lebih khusus daripada sekadar mengkritisi kognitif Prabowo. Dalam wawancara dengan Tempo, Tiyo menyiratkan bahwa yang ia maksud “bodoh” adalah bagaimana kebijakan pemerintahan saat ini tidak lagi berpihak pada ilmu pengetahuan. Bodoh di sini adalah infrastruktur kekuasaan yang tidak berpihak pada ilmu pengetahuan, ungkapnya.

Tiyo suka menggunakan diksi yang mudah dipahami khalayak umum, tidak dengan kamus intelektualnya yang terkesan menara gading. Ia pun mengakui bahwa gerakan mahasiswa saat ini menyuarakan isi hati masyarakat dengan bahasa yang susah dimengerti masyarakat. Hal tersebut menjadi salah satu faktor BEM UGM dan BEM lainnya keluar dari BEM SE.

Tiyo Berasal

Latar belakang Tiyo tidak berasal dari pendidikan formal seperti mahasiswa pada umumnya. Lahir di Kudus, Jawa Tengah, Tiyo mengemban pendidikan informal selama tiga tahun di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Omah Dongeng Marwah, Kudus, Jawa Tengah. Fakta tersebut tidak menafikan prestasi Tiyo. Ia beberapa kali memperoleh penghargaan kejuaraan syair atau puisi di kancah nasional, bahkan internasional. Mungkin karena ketertarikannya pada dunia diksi, terlihat bagaimana Tiyo mudah dalam persoalan retorika.

Kehidupan organisatoris Tiyo terlihat sangat dinamis. Selain pernah menjabat sebagai Ketua BEM UGM 2025, Tiyo pernah berdikari di dunia pendidikan dan seni. Ia sempat menjadi guru bantu bahasa Indonesia di Melbourne High School, Australia pada 2023. Ia juga menjadi inisiator dan pelaksana Kemah Sastra Kudus pada 2020, serta sutradara, penulis, dan fasilitator Omah Dongeng Marwah sejak 2016-2021. Rekam jejaknya memang tidak terlihat jelas asal‑usul keberanian Tiyo hari ini. Maka ada wadah inkubasi jiwa aktivis Tiyo yang kemungkinan besar membawanya ke lautan aktivisme.

Kehidupan Aktivisme Tiyo

Tiyo lahir dari organisasi pergerakan mahasiswa. Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) berperan dalam mendidik Tiyo dalam membangun ideologi kebangsaannya juga. Terekam bahwa Tiyo berdinamika dengan Komisariat HMI Filsafat UGM. Beberapa kali terlihat menyambangi komisariat lainnya, membuktikan Tiyo adalah aktivis HMI yang aktif.

Menurut Tiyo, pergerakan aktivisme mahasiswa hari ini adalah menara gading, di mana pergerakan mahasiswa terbiasa dengan bahasa-bahasa yang tinggi. Ia memahami bahwa gaya tersebut hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya mahasiswa, padahal esensi mahasiswa adalah pelayan masyarakat.

Pola yang ia tangkap: saat ini mahasiswa masuk ke dunia aktivis hanya untuk dapat dilirik penguasa. Karena ketertarikan politis di kemudian hari, pergerakan mahasiswa hari ini sumbang, tidak berujung. Namun Tiyo tidak menyangkal bahwa kehidupan aktivisme juga harusnya berujung pada kursi kekuasaan. Ia tidak menolaknya, terlebih bagaimana pemerintahan hari ini menjalankan roda kekuasaan secara otoriter.

Apa yang dibawa Tiyo di setiap gerakannya?

Tiyo secara implisit menyuarakan independensi mahasiswa. Ada tiga nilai yang ingin dibawa Tiyo: independensi, moralitas, dan kerakyatan. Maksud independensi di sini lahir ketika Tiyo melihat kebanyakan gerakan mahasiswa semu, dengan tujuan mendapat lirikan dari penguasa. Sehingga fungsi kehadiran mahasiswa dalam tatanan demokrasi menjadi bias tanpa memberi efek yang signifikan pada politik bangsa. Adapun moralitas yang telah terpenggal dengan kehadiran aliansi BEM SE. Kerakyatan menjadi pasar politik, menurutnya.

Secara sekaligus, kehadiran Tiyo dalam arena perpolitikan Indonesia menghidupkan kembali jati diri mahasiswa yang telah hilang. Tiyo mengedepankan asas keilmuan dan kerakyatan sebagai dasar pergerakan, bukan hanya utilitas organisasi. Dalam wawancara yang sama, Tiyo juga menganggap aksi Reformasi 1998 prematur karena hanya menggulingkan Soeharto dan menaikkan Soeharto lainnya. Tiyo masih menganggap gerakan tersebut masih memiliki energi yang kuat untuk terus diulang. Kami mulai membangun narasi imajinasi reformasi jilid dua. Kami sadar bahwa Reformasi 1998 tidak tuntas. Reformasi masih punya energi. Energi itu yang coba kami bangun, ungkapnya.

(Perspektif/ Ziyat)

Editor: Intan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *