BeritaOpiniSuara Pembaca

Alap-Alap Laut Utara

×

Alap-Alap Laut Utara

Sebarkan artikel ini
By : Wikipedia

Darussalam – Dunia sedang tidak baik-baik saja. Banjir terjadi dimana-mana. Hutan-hutan yang gundul menimbulkan amarah bagi penghuninya. Sehingga manusia harus menerima akibat dari keserakahannya. Sedangkan setiap seminggu sekali gunung merapi meletus. Akibatnya banyak gempa dan tsunami melanda kota-kota dan pesisir laut.

Negara adikuasa sedang mengumumkan perang dunia ke 3. Akibat dari itu banyak pertempuran antar negara. Negara yang berkembang jadi jajahan negara kapitalis dan haus akan kekuasaan dan kemenangan. Banyak buruh dikerja paksa untuk lembur tanpa gaji. Guru tidak dipedulikan nasibnya oleh pemerintah. Petani kehilangan sawah yang hijau makmur.

Dalam keadaan yang genting itu di sebuah desa tertinggal, sedang mengajilah seorang pemuda dengan guru ngajinya. Gurunya mengajarkan fikih dan dalil-dalil hadits. Didengarnya guru ngajinya itu menerangkan dengan seksama dan jelas. Sambil mengaji didengarkannya pula siaran radio kebangsaan. Bahwa negara sedang dilanda krisis ekonomi dan moneter.

Para pejabat hanya mementingkan keluaraga dan kawan sejawata saja. Nasib rakyat dilupakan. Para pejabat militer dan seluruh barisannya sibuk mempersiapkan strategi dan melupakan keamanan di desa-desa. Akibatnya pemuda resah. Banyak terjadi kesalah pahaman antar pemuda desa.

Datanglah serombongan santri ke dalam rumah guru ngaji itu. Ada 40 santri yang kesemuanya berjaket hitam dan bersongkok hitam. Guru ngaji pemuda itu langsung menunjuknya. “Kamu besok pimpin santri ini!” kata guru ngaji itu dengan terbatuk-batuk. Pemuda itu kebingungan dengan segenap pertanyaan di kepalanya.

“Saya tidak tahu apa-apa,” kata pemuda itu dengan polosnya.

“Kamu adalah santriku. Kamu harus sendika dawuh dengan perintah gurumu, hukumnya wajib. Fardhu ain,” kata gurunya menegaskan.

Guru ngaji itu masuk ke kamar sekejap. Keluar lagi dengan membawa keris pusaka. Sebentar juga pemuda yang ditunjuk jadi pemimpin para santri itu masih memikirkan nasibnya sebagai guru wiyata yang selama 5 tahun mengabdi masih belum diangkat jadi pegawai negeri. Seolah tahu isi hati pemuda itu, guru ngaji itu duduk sambil menunjuk muka santrinya itu.

“Kamu harus tahu, bahwa lima tahun pengabdianmu ada dua kali kesempatan yang kamu sia-siakan. Sudahlah bersyukur saja! yang kamu lupakan itu bersykur. Kamu lupa bahwa Allah sudah siapkan rejeki bagimu berladang kerja, tetapi kamu menghayal jauh ingin yang lain, sehingga kamu lupakan kesempatan yang ada di depan mata, kembalikan semua pada Gusti Allah!” jawab guru ngaji padanya.

“Sekarang, bawalah keris pusaka peninggalanku ini, namanya keris Tilamsari. Jika dalam keadaan terdesak insyaallah akan selamat. Besok pimpinlah para santri ini yang jumlahnya 41 beserta kamu bergerilnya menghadapi penjajah Jepang. Aku doakan kalian selamat fiddunya wa akhirat,” sambung gurunya kepada semua santrinya.

Esoknya berangkatlah semuanya ke belantara hutan dekat desa. Masing-masing mengganti namanya. Mereka memakai nama Alap-Alap Laut Utara untuk nama barikadenya. Karena selain mereka berasal dari pantai utara, mereka juga dekat dengan pesisir yang akan menjadi lembah perjuangan mereka. Hutan dan sawah jadi saksi akan ketulusan mereka berjuang.

Barisan santri itu memakai senjata parang dan bambu runcing. Kesemua senjatanya itu sudah diasmak oleh gurunya supaya dapat kebal dari hujanan peluru musuh. Pemuda yang menjadi sayap atas pasukan santri itu menamakan dirinya Gemak Sarip. Kedua wakilnya bernama Jalak Suto dan Jalak Geding. Mereka berjalan ke rumah-rumah penduduk. Meminta bantuan pasukan yang siap ikut berjihad dan sepasok makanan buat bekal berjuang.

Penduduk juga baik hatinya. Mereka tahu santri-santri itu tulus dalam berjuang. Makanya penduduk mau membantu perjuangan mereka dalam berjuang. Sebuah bunyi mesin tank menderu semakin dekat. Seluruh pasukan tersebut bersiap dengan siaga dalam barisannya. Ada yang naik pohon dan ada yang bersembunyi di bawah jembatan.

“Allahuakbar,” ucapan takbir terdengar sebagai awal kesiapan menyerang para santri. Pasukan terpecah-belah. Dengan gagahnya mereka menusuk tubuh musuh dengan berani. Banjir darah mulai nampak. Sebagian senjata yang dapat diambil segera diambil dan dipakai untuk berjuang. Sementara ada tiga santri yang tertangkap. Mereka tertusuk bayonet tentara Jepang. Mereka pun gugur sebagai kusuma bangsa.

Gemak Sarip memimpin pasukan untuk mundur. Jangan sampai ada yang tertinggal, sebab mereka bergerilnya, bukan gencatan senjata. Akhirnya menanglah pasukan santri pada hari itu. Hal itu menimbulkan kebahagiaan bagi para pejuang.

Sementara di satu sisi, komando militer Jepang bernama Sukanade merasa marah besar. Dia ingin segera menumpas pasukan musuh. Tertinggal bayonet bambu beserta bendera dilumuri darah dengan tulisan arab jawi bertuliskan Alap-Alap Laut Utara. Sukanade segera memerintahkan pengejaran kepada pasukan musuh.

Alap-Alap Laut Utara juga tahu bahwa nyawa mereka terancam. Jadi mereka memutuskan bersembunyi di tengah hutan. Hanya kayu bakar sebagai penerang malam hari. Di sekeliling hutan mereka dapat memakan umbi-umbian milik para petani. Sungguh besar jasa petani bagi perjuangan negeri ini. Karena mereka, para pejuang dapat menyambung hidup.

Gemak Sarip berjaga sambil membaca wirid. Dia tahu bahwa kawan-kawannya juga tidak bisa tidur pulas karena tekanan perang dan nyawa. Ditemani oleh Jalak Suto malam itu, dia sedang mengobrol tentang pengalaman mereka hidup sebelum jadi pejuang. Memang hal seperti itu kadang diperlukan pejuang yang gagah berani agar tidak rusak suasana pikirannya yang bisa membuat damai dan akur dengan keadaan.

Dari kejauhan lampu dan api menyala-nyala. Jago merah semakin melahap habis rimbun belukar. Jalak Suto berkata setelah dia naik ke pohon tinggi memantau keadaan, bahwa ada segerombolan tentara Jepang menyerbu dan melakukan operasi perang malam ini juga. Gemak membangunkan seluruh pasukannya. Semuanya memegang senapan dengan sangat erat.

Gemak Sarip teringat akan keris pusaka. Dikeluarkannya keris pusaka dan dibacakan doa olehnya. Anehnya, tiba-tiba prajurit musuh mundur dan tak jadi menyerang. Tidak ada perlawanan malam itu. Hal itu aneh dan benar terjadi. Keris pusaka itu atau kehendak Allah yang menyelamatkan Alap-Alap Laut Utara. Tapi perjuangan masih terus berlanjut dan tidak boleh berhenti.

Press Release : Muhammad Luthfi

Editor : Meisya