Darussalam – Pulau Sumatera telah tenggelam selama enam hari sejak 27 November 2025. Ratusan ribu orang terdampak dan terpaksa meninggalkan rumah mereka. Beberapa kabupaten dan kota terisolasi, tidak dapat terhubung dengan daerah lain baik secara jaringan maupun fisik. Dampak banjir ini secara langsung mengakibatkan terputusnya akses transportasi darat, sehingga sangat sulit bagi penduduk untuk keluar masuk wilayah tersebut.
Tidak hanya wilayah yang terdampak banjir secara langsung, tetapi daerah-daerah sekitar, seperti Banda Aceh, Aceh Besar, dan sekitarnya, juga berdampak secara pasif. Infrastruktur daerah seperti pasokan listrik, air bersih, dan telekomunikasi terganggu. Salah satu menara SUTT roboh akibat banjir, yang menyebabkan padamnya listrik di Banda Aceh dan sekitarnya setelah bencana terjadi.
Akibatnya, sistem telekomunikasi dari penyedia utama seperti Telkom, Telkomsel, XL Axiata, dan lainnya terputus, yang menghambat aktivitas masyarakat. Banyak masyarakat, terutama mahasiswa, mencari tempat perlindungan di warung kopi yang masih memiliki listrik.
Hal ini menciptakan fenomena sosial di mana masyarakat berkerumun di warung kopi untuk mencari pasokan listrik dan jaringan internet. Secara tidak langsung, hal ini memaksa pelaku bisnis untuk menyediakan fasilitas seperti pasokan listrik dari genset demi meraup keuntungan dari pembeli yang datang.
Dampak selanjutnya adalah meningkatnya permintaan terhadap bensin. Genset yang digunakan untuk menyediakan listrik di warung kopi membutuhkan bahan bakar, yang menyebabkan permintaan bensin naik. Karena bensin tidak hanya digunakan untuk kendaraan bermotor, tetapi juga untuk genset, maka harga bensin pun naik.
Beriringan dengan itu, adanya informasi tentang beberapa akses jalan yang terputus berpengaruh pada psikologi masyarakat. Mereka berspekulasi bahwa pasokan bensin ikut terpengaruh dengan akses jalan yang terputus sehingga dalam waktu dekat bensin akan segera habis, berpotensi menimbulkan fenomena panic buying. Masyarakat berlomba-lomba mengantri dan membawa jeriken untuk menyimpan bensin, sehingga dalam sehari stok bensin di SPBU bisa habis akibat tingginya permintaan.
Fenomena panic buying ini tentu tidak baik untuk kestabilan daerah. Permintaan yang tinggi dan kelangkaan barang dapat mempengaruhi kestabilan roda ekonomi. Pelaku usaha mikro dan menengah, harga barang, serta daya beli masyarakat akan menurun. Kelangkaan bahan bakar akan mempengaruhi harga barang, bahkan di sektor jasa. Dampaknya, perputaran ekonomi akan melambat, dan masyarakat cenderung berhemat.
Dari perspektif makroekonomi, tantangan ini akan menurunkan pendapatan asli daerah (PAD) karena aktivitas ekonomi yang terhenti atau terhambat, mengurangi pendapatan pajak daerah. Inflasi secara masif ikut terjadi karena meningkatnya biaya faktor produksi. Fenomena cost-push inflation tersebut bisa menjadi bencana sistemik jika dibiarkan berlarut-larut.
Dalam jangka panjang, efek psikologi ini akan merambas pada perilaku masyarakat terhadap sosial dan ekonomi. Sangat besar kemungkinan masyarakat akan menahan aktivitas ekonomi dan membelanjakan uangnya pasca trauma bencana. Yang pada akhirnya menghambat proses pemulihan ekonomi setelah bencana.
Masyarakat Banda Aceh perlu tetap tenang dalam menghadapi kondisi ini. Reaksi impulsif hanya akan menambah kerugian, selain kerugian yang ditimbulkan oleh bencana alam. Edukasi dan sosialisasi terhadap masyarakat cukup urgent dilakukan untuk menjaga kestabilan ekonomi daerah.
Pemerintah juga seharusnya merespons dengan cepat untuk mengatasi bencana banjir di Sumatera. Bantuan pemulihan, baik berupa material maupun tenaga, sangat berpengaruh pada kestabilan daerah yang terdampak, baik secara langsung maupun tidak. Prinsip dasar ekonomi adalah ketergantungan pada kelangkaan (scarcity), dan inilah yang perlu dikelola dengan baik untuk mencegah dampak yang lebih buruk.
Penulis : Ziyat











