Darussalam- Museum Kota Juang merupakan galeri sejarah yang cukup terkenal di Kota Bireuen, menyimpan berbagai kisah perjuangan, peninggalan, serta koleksi masa lampau. Salah satu koleksi pribadi peninggalan zaman dahulu yang masih terjaga hingga saat ini dan menjadi daya tarik bagi pengunjung adalah rencong, senjata khas Aceh yang melambangkan keberanian dan identitas masyarakat Aceh. Berbeda dari yang lain, rencong yang terdapat di museum ini memiliki ciri khas berkilau dengan ukuran yang lebih besar dibandingkan rencong pada umumnya.
Diresmikan pada 30 Maret 2021, Museum Kota Juang menjadi museum pertama di Kota Bireuen. Inisiatif pendiriannya digagas oleh Hj. Noor Balqis, S.Psi., bersama keluarga besar H. Abu Bakar bin Ibrahim bin Salim Bey, seorang tokoh kelahiran Turki yang kemudian menetap dan berkarya di Bireuen. Museum ini dikelola melalui Yayasan Museum Kota Juang Bireuen dan hadir sebagai wujud keinginan untuk menghimpun jejak para tokoh yang telah berjasa bagi Bireuen, Aceh, maupun Indonesia, sekaligus melestarikan benda-benda bersejarah serta peralatan masyarakat tempo dulu.
Selain ragam koleksinya, perhatian pengunjung juga tertarik pada ornamen bernuansa biru dan lukisan bergaya Turki yang menghiasi dinding museum. Rumah tradisional Aceh yang menjadi salah satu bagian utama kompleks ini turut dipadukan dengan sentuhan bercorak Turki, menjadikannya tidak hanya sebagai ruang penyimpanan sejarah, tetapi juga sebagai cermin identitas keluarga pendiri serta simbol kedekatan hubungan Aceh dan Turki.
Bireuen memiliki slogan “Kota Juang” yang lahir dari catatan sejarah perjuangan bangsa. Julukan ini berawal dari kedatangan Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada 18 April 1948. Saat itu, Belanda masih menyatakan bahwa Indonesia belum merdeka. Namun, di pendopo yang terletak di Kota Bireuen, terdapat sebuah radio yang diselundupkan dari Singapura, kemudian diperbaiki dan ditempatkan di pendopo tersebut. Melalui radio itu, berita mengenai kemerdekaan Indonesia berhasil disiarkan dan tersebar luas hingga ke luar negeri. Istilah “Kota Juang” menggambarkan perjuangan para pahlawan yang berupaya menyebarkan informasi kemerdekaan Indonesia melalui radio yang kemudian dikenal dengan nama Rimba Raya.
Jika melihat lebih dekat dari sudut sejarah, museum ini menawarkan banyak hal yang dapat digali secara mendalam. Setiap sudut ruangan, koleksi, dan artefak ditata dengan rapi dan estetis. Penataan inilah yang mengantarkan Museum Kota Juang meraih penghargaan peringkat ketiga dari Kementerian Kebudayaan RI sebagai museum dengan tata inventaris yang paling rapi dan indah. Di sisi lain, terdapat replika bangunan utama berupa Rumah Tradisional Aceh yang dihias dengan sentuhan warna biru khas Turki serta dilengkapi dengan duplikasi Meuligoe Bireuen.
Pada halaman depan museum, pengunjung juga dapat melihat beberapa duplikasi monumen bersejarah yang menyimpan cerita perjuangan. Salah satunya adalah Monumen Perang Krueng Panjoe, yang menggambarkan pertempuran heroik antara Tentara Keamanan Rakyat (TKR) bersama rakyat Aceh melawan pasukan Jepang di Krueng Panjoe, Aceh. Monumen ini menjadi pengingat penting atas keberanian dan keteguhan rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan.
Selain menghadirkan monumen dan koleksi sejarah, Museum Kota Juang juga ditata sebagai ruang edukasi yang ramah bagi semua kalangan. Tidak mengherankan jika museum ini mendapatkan respons yang sangat baik, baik dari masyarakat setempat maupun pengunjung dari luar daerah. Banyak pengetahuan baru yang dapat dipetik sebagai bentuk upaya melawan lupa terhadap sejarah dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya warisan budaya.
Dalam wawancara pada 29 Agustus 2025, Hj. Noor Balqis, S.Psi., menyampaikan harapannya kepada generasi muda agar terus memelihara sejarah dan tidak melupakannya. Beliau juga mengajak seluruh masyarakat untuk senantiasa bangga terhadap sejarah yang menjadi bagian dari identitas suatu daerah.
(Perspektif/Zaharatun Wara & Ahmad Syah Daud)
Editor:Akif









