Mengenang 15 Tahun Tsunami Aceh, “Melawan Lupa, Membangun Siaga”

Foto Museum Tsunami Aceh by MPDG

Darussalam – Minggu 26 Desember 2004 pukul 07.58 WIB, tanah Rencong dilanda gempa bumi yang hebat. Dengan magnitudo 9 pada kedalaman 10 kilometer di dasar laut yang lokasinya berjarak 149 kilometer dari Meulaboh. Luka yang diberikan oleh sang Pemilik Semesta kini telah membekas 15 tahun bagi masyarakat Aceh.

Peristiwa yang berhasil menggetarkan jiwa beberapa negara, lebih kurang memakan 170.000 orang meninggal dunia dan ratusan ribu rumah, bangunan, dan fasilitas umum dikoyak oleh hantaman keras air laut yang menggeliat. Beberapa kapal yang seharusnya berlayar di lautan, malah berlayar leluasa diatas rumah-rumah warga Aceh.

Suara seru lantunan atas nama besar Allah SWT bergumam dimana-mana, tanda meminta pertolongan-Nya. Suasana mencekam, langit seperti mengatakan sesuatu, untuk menyadarkan bahwa kuasa-Nya sangatlah besar atas bumi yang Ia ciptakan. Tangisan sebagai pelepas rasa takut akan keselamatan diri, dengan harap-harap dapat terselamatkan. Namun itu hanyalah luka, yang telah tumbuh selama 15 tahun.

“Melawan Lupa, Membangun Siaga”, kalimat yang diserukan oleh Pemerintah Aceh teruntuk masyarakatnya menjelaskan bahwa kita tidak seharusnya melupakan apa yang pernah terjadi pada tanah kebanggan Cut Nyak Dien ini, dengan alasan bahwa peristiwa Tsunami ini adalah sebagai peringatan dari sang Maha Kuasa, sekaligus menanamkan rasa siaga terhadap bencana alam agar senantiasa bersiap diri.

Mengenang 15 tahun Tsunami Aceh, Museum Tsunami Aceh dibuka secara umum untuk masyarakat sekitar sebagai momen untuk memperingati hari di mana kesedihan luka masa lalu yang pernah menggores hati rakyat Aceh. Berbagai barang peninggalan yang telah dihanyutkan gelombang tsunami kini menjadi kenangan yang tak akan pernah dilupakan, mulai dari pakaian, buku-buku, alat rumah tangga, bahkan sepeda motor yang masih lekat dengan tanah liat tsunami Aceh kala itu. Peringatan tsunami Aceh kali ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Di mana dibarengi dengan adanya momen gerhana matahari cincin yang hanya muncul 150 tahun sekali, memberikan kesan suasana langit dengan alunan sendu.

Tampak ribuan masyarakat Aceh antusias menyaksikan gerhana matahari tersebut. Hal ini dapat dilihat dengan banyaknya warga yang berhenti di pinggiran jalan demi mengabadikan momen langka tersebut di Instastory, lalu diposting di media social Instagram pribadi. Gerhana matahari ini pun menjadi saksi yang begitu jelas tentang bagaimana peringatan ke-15 ini  menjadi momen yang begitu spesial yang nantinya akan menjadi sejarah langka bagi tanah Rencong kedepannya.

Selain menyaksikan gerhana matahari, sebagian masyarakat juga menunaikan shalat gerhana atau shalat kusuf  di Masjid Raya Baiturahman. Di saat sedang sholat berlangsung, sangat terasa bahwa suasana Banda Aceh saat ini sedang berduka sekaligus bersyukur atas segala yang diberikan-Nya selama ini untuk Aceh. Kembali mengingat kenangan masa lalu saat masjid tersebut menjadi tiang yang kokoh penyambung nyawa sekaligus menyelamatkan ribuan rakyat dari dahsyatnya gelombang tsunami.

Foto by Vanna

Rasa sejuk menghampiri warga Banda Aceh, terlihat antusiasme tinggi dalam berdoa untuk Aceh kedepannya, sekaligus mengucap rasa syukur atas kehendak sang Maha Kuasa. 15 tahun sudah luka itu bersamaan tumbuh beriringan dengan Aceh yang terus berkembang. Tanah Rencong sudah pulih dan kini waktunya untuk membangun segala hal yang sempat tertinggal.

“Kita tidak bisa menghentikan bencana alam, akan tetapi kita dapat mempersenjantai diri dengan Ilmu pengetahuan.” – Petra Nemcova (Az & Mpdg/Perspektif)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.