Ormawa Ekonomi ; Krisis atau Cacat Kepemimpinan?

Ilustrasi by Vannamrgn

Darussalam 一 Organisasi Mahasiswa atau lazim disebut Ormawa menjadi salah satu tolok ukur keaktifan sekelompok mahasiswa di suatu Universitas. Begitu pun dengan Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala, yang mempunyai BEM dan DPM FEB.

Namun, melihat ke belakang, pada tahun 2019 lalu, kinerja BEM dan DPM FEB bisa di katakan ada kecacatan di dalamnya. Tapi, apa sih yang sedang terjadi pada BEM dan DPM FEB 2019?

Pertama-tama, mari mengulik soal Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) milik kampus tertua di Nanggroe Aceh Darussalam. “Ekonomi hai ekonomi. Kampus tanyoe meugah di Nanggroe. Yang tertuha bak Syiah Kuala. Teristimewa wajeb ta jaga” Pernahkah membaca kalimat tersebut? Atau pernah menyanyikannya?

Iya, itu adalah mars kebanggaan milik Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Unsyiah tentunya. “Yang tertuha bak Syiah Kuala”, rupanya kalimat ini memang benar menggambarkan bahwa kampus kuning tersebut sudah tua, begitu pula mahasiswanya yang ikut menua.

Terlihat gairah dalam menjadikan diri sendiri sebagai mahasiswa semakin menghilang seiring tergerus waktu, membuat kampus kuning ini nampak mati suri. Lalu apa guna dengan keberadaan BEM FEB yang agung ini? Bukankah seharusnya BEM FEB yang menjadi orator bagi mahasiswa FEB untuk lebih lama menginjakkan pijakkannya di kampus yang tertua ini?

Mengintip tetangga BEM FEB, ada DPM atau Dewan Perwakilan Mahasiswa FEB yang berperan sebagai “wakil” dari seluruh mahasiswa FEB. Namun realitanya, DPM FEB selama setahun penuh di 2019 nampak lenyap bak ditelan bumi.

Dico, selaku ketua DPM FEB 2019 tak begitu nampak di sekitaran lingkungan kampus selama dua semester dan hanya terlihat terakhir kali saat Komisi Pemilihan Raya (KPR) FEB melakukan kegiatan Sosialisasi mengenai Pemira FEB, dan mengatakan bahwa Latihan Kepemimpinan Manajemen Mahasiswa (LKMM) akan terlaksanakan.

Tahukah bahwa ada DPM FEB yang sebetulnya berkedudukan di FEB Unsyiah? Mungkin ada yang tidak tahu, iya kan? Apa sih sebenarnya tugas DPM FEB?

Secara garis besar; pengemban kedaulatan atau badan yang menjalankan kedaulatan yang bertugas untuk membentuk kebijakan yang mencerminkan dari keinginan mahasiswa. Jadi, kebijakan tersebut nantinya bukanlah dari suatu pihak atau golongan semata. Namun sangat di sayangkan sekali, ternyata DPM FEB tidak menjalankan mandat seharusnya. Kecewa nih penonton.

Lalu berbincang mengenai Pemira FEB pada bulan Desember tahun 2019 lalu yang di selenggarakan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis tercinta, agendanya hanya pemilihan ketua BEMU dan DPMU nyatanya, tak ada calon ketua BEM FEB yang nampak di kertas pemilihan.

Ah, rupanya KPR FEB memilih mengganti arus dari demokrasi kepada aklamasi. Jadi, artinya adalah ketua BEM FEB 2019/2020 akan resmi secara tidak langsung tanpa melalui pemilihan umum. Wah, minim gerigi prosesnya.

Tapi tahukah kamu tentang KPR FEB itu apa? KPR FEB sebenarnya adalah bentukkan dari hasil Sidang Umum milik DPM FEB, dengan orang di dalamnya yang terpilih akan menjalankan proses pemilihan raya di tingkat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, tanpa mempunyai kepentingan lainnya. Hanya saja pertanyaanya adalah “Apa itu Sidang Umum?”.

Sidang Umum adalah rangkaian kegiatan DPM yang bersifat berkala (dilaksanakan 3 bulan sekali), yang berfungsi untuk membentuk peraturan kemahasiswaan, menindaklanjuti aspirasi mahasiswa, serta membahas hal–hal yang dianggap perlu dan wajib dihadiri oleh BEM dan HMJ lainnya.

Anehnya, tanpa ada peresmian SU baru untuk tahun 2019, KPR FEB sudah terbentuk begitu saja. Hebat bukan? Tidak perlu susah payah untuk mengadakan atau meresmikan SU, KPR dan Pemira FEB aman bos.

Tapi sangat di sayangkan DPM FEB meniadakan LKMM pada tahun 2019 atau gagal diwujudkan. Kenapa ya? Hanya DPM FEB yang tahu alasannya, padahal undangan LKMM sebelumnya sudah di sebarkan. Seperti PDKT terus ditinggal ghosting gitu aja, sedih ya.

Sebut saja, (LH) salah satu mahasiswa Ekonomi yang sempat mengikuti LKMM tahun 2018, mengatakan bahwa LKMM sangatlah penting dalam pembentukkan karakter untuk seorang pemimpin. “Pembelajarannya banyak yang bisa diambil. Apalagi soal dream plans, kita bisa gambarkan apa yang mau kita rencanakan beberapa tahun kedepan, maka lebih terancang, dan lebih teratur, untuk organisasi pun bisa diterapkan.”

Jika sudah begini maka apa solusinya? Tak ada solusi berarti, apabila kita sendiri tidak merubahnya dari diri sendiri terlebih dahulu. Tahun 2019, akankah tercatat menjadi tahun paling cacat atau krisis mengenai hal kepemimpin di lingkungan organisasi mahasiswa FEB?

Terlepas bagaimana kita menilai, BEM dan DPM FEB tetaplah penting untuk ruang lingkup mahasiswa sebagai lembaga yang dengan mengedepankan azaz demokrasi perwakilan, agar mahasiswa tidak merasa di curangi dan tetap terjalin hubungan harmonis antar mahasiswa lainnya.

“Berpolitik jadi sebuah pilihan yang mesti dipertimbangkan, bagi siapapun yang menghendaki perubahan. Karena perubahan tak datang tiba-tiba, hanya berkat doa di tengah malam buta.” -Najwa Shihab. (Perspektif)