Opini

Mahasiswa Mola Mola

×

Mahasiswa Mola Mola

Sebarkan artikel ini
by; ceningandivers

Kalau laut punya simbol kekuatan tanpa perlawanan, itu adalah mola-mola. Tubuhnya raksasa, beratnya berton-ton, tetapi ia lebih sering mengapung daripada menguasai arus. Ia besar, namun tidak berkuasa. Dalam sistem, ukuran tidak selalu berarti daya kuasa. Tubuh sebesar itu pun akhirnya menjadi santapan anjing laut.

Di ekosistem berbeda, ada makhluk yang serupa. Ia punya akal, legitimasi moral, bahkan membayar mahal untuk berada di ruang akademik. Secara teoritis, ia merdeka. Secara normatif, ia tidak bisa dibungkam. Namun kebebasan itu berhenti di ruang diskusi, tidak pernah naik menjadi keberanian.

Dari kejauhan, “Anjing Laut” tidak perlu berlari. Ia cukup mengatur arus. Arus berupa regulasi kegiatan, distribusi anggaran, mekanisme persetujuan, dan otoritas tanda tangan. Ketika mahasiswa sibuk mengejar posisi struktural, arus itu perlahan menggeser haknya. Anggaran kegiatan dipangkas tanpa perlawanan serius. Kebijakan berjalan tanpa uji publik, dan mahasiswa tetap membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) dengan patuh.

Inilah tragedinya: bukan karena mahasiswa tak punya daya, tetapi karena ia memilih tidak menggunakannya. Ia percaya bahwa kepatuhan menjamin masa depan. Sejatinya dalam ekosistem kekuasaan, yang diam lebih cepat habis daripada yang melawan arus.

Seharusnya, di dalam diri mahasiswa ada api yang bukan sekadar semangat seremonial atau euforia agenda tahunan, melainkan potensi untuk menyalakan kembali sumbu-sumbu pergerakan yang lama dipadamkan kenyamanan. Kreativitasnya mampu merobek dogma yang ditempel di dinding kampus. Olah pikirnya yang ditempa dari dinding ekonomi, hukum, sosial, dan disiplin ilmu lain cukup kuat untuk membedah kebijakan, menguji legitimasi, bahkan menggugat ketidakadilan yang dibungkus formalitas.

Ia tidak kekurangan akal. Ia tidak kekurangan ruang. Yang kurang hanyalah keberanian untuk menggunakan keduanya secara utuh. Kebebasan akademik adalah mandat. Mandat untuk berpikir, mempertanyakan, dan menolak ketika haknya dipersempit secara perlahan.

Cukup mola-mola yang besar tapi pasrah pada arus. Mahasiswa yang diberi daya nalar tidak dilahirkan untuk menjadi santapan. Ia seharusnya menjadi gelombang.

Namun, itu hanya gambaran mahasiswa yang seharusnya, bukan yang kita lihat hari ini. Untuk sementara, biarlah mola-mola terus terapung dengan tenang. Toh “Anjing Laut” selalu senang menunggu.

Omong-omong, siapa “Anjing Laut” itu?

(Perspektif/ Ziyat)

Editor: Intan Dwi Yanti

Respon (3)

  1. Metafora Mola mola terasa menohok: besar, berdaya, tetapi memilih terapung. Tulisan ini seperti pengingat halus bahwa kebebasan akademik bukan sekadar ruang bicara, melainkan tanggung jawab untuk bersuara.
    Yang paling mengusik bukan “Anjing Laut”, melainkan sikap diam yang perlahan dianggap wajar. Esai ini bukan hanya kritik—ia adalah cermin.

Komentar ditutup.