BeritaKampusOpini

Dua Sisi Hubungan Parasosial: Antara Pemantik Motivasi dan Candu Obsesi.

×

Dua Sisi Hubungan Parasosial: Antara Pemantik Motivasi dan Candu Obsesi.

Sebarkan artikel ini
by Tritonian

Darussalam- Pernahkah kamu tertawa bahagia atau bahkan menangis karena idola mu? Di era digital  saat ini, media bukan sekadar alat relaksasi, melainkan sarana pemenuhan kebutuhan  emosional melalui tayangan komedi, film, hingga podcast. Menurut McQouail, fungsi hiburan ini  membantu individu melupakan rutinitas yang melelahkan sekaligus menyalurkan perasaan  mereka.

Fenomena ini berkembang menjadi keterikatan yang lebih dalam saat media mulai  mengekprolasi sisi personal dan karir para selebriti. Paparan informasi intensif ini mendorong  penggemar untuk merasa memiliki kedekatan emosional dengan figur publik, meskipun mereka  tidak pernah saling mengenal. Kondisi ini didefinisikan oleh Horton dan Whol sebagai hubungan  parasosial, yaitu interaksi satu arah dimana individu menginvestasikan energi emosional kepada  sosok yang bahkan tidak menyadari keberadaan mereka. Saat ini, media sosial menjadi wadah  paling masif untuk terciptanya dinamika hubungan ini seiring dengan lonjakan jumlah pengguna  global yang mencapai miliaran orang pada pertengahan 2025.

Meski sering dipandang sebagai bentuk obsesi semata, nyatanya hubungan ini memberikan  pengaruh positif terhadap individu. Hubungan ini dapat berfungsi sebagai sumber dukungan, baik  berupa dukungan emosional, inspirasi, maupun dukungan untuk peningkatan kepercayaan diri.  Bagi banyak orang, figur publik sering kali dijadikan teladan yang memotivasi mereka untuk  melewati hari-hari yang melelahkan melalui rasa kepemilikian (sense of belonging), yang juga  bisa mengurangi perasaan kesepian mereka. Meskipun hubungan parasosial ini bersifat satu arah,  situasi ini sering kali menjadi katalis bagi terbentuknya komunitas dengan minat yang serupa.  Keterikatan emosional terhadap figur publik yang sama menciptakan identitas sosial kolektif  terhadap sesama penggemar. Dalam komunitas tersebut, individu dapat berinteraksi dua arah untuk  berbagi hobi hingga membangun persahabatan yang nyata. Dengan demikian, hubungan parasosial  juga dapat berperan sebagai jembatan perluasan jaringan sosial seseorang melalui interaksi antara  sesama penggemar.

Namun di sisi lain, hubungan ini juga berpotensi menyimpan dampak negatif jika tidak  dikelola dengan baik. Individu yang awalnya merupakan seorang penggemar, bisa saja berubah  menjadi pembenci (haters). Selain itu, situasi ini juga beresiko terhadap perilaku penguntitan yang  melanggar privasi seorang figur publik. Hal tersebut bisa terjadi karena penggemar memiliki  keterikatan yang terlalu kuat dengan idola mereka, sehingga saat penggemar tidak mendapatkan respon dari idola akan membuat mereka untuk melakukan hal-hal negatif. Dampak lainnya adalah  sikap konsumtif dan materialistis, akibat pengaruh dari idola mereka untuk membeli produk-produk yang dipromosikan. Gong dan Li (2018) menunjukkan bahwa selebriti atau influencer  mudah memengaruhi konsumen melalui iklan karena daya tarik dan kepercayaan mereka.

Kompleksitas hubungan parasosial ini tercermin secara nyata dalam fenomena komunitas  K-Pop global saat ini, khususnya pada grup ENHYPEN yang kini menjadi pusat perhatian dunia  termasuk Indonesia. Grup ini semakin memuncak di ruang digital, terutama setelah munculnya berita mengejutkan mengenai keluarnya salah satu anggota utama mereka, Heeseung. Sebagai  seorang anggota yang memiliki paling banyak penggemar, Heeseung telah membangun hubungan  parasosial yang kuat melalui interaksi di komunitas penggemarnya. Hal ini membuat para  penggemar merasa memiliki andil emosional dalam setiap langkah karirnya.

Kekuatan ikatan ini terlihat ketika Heeseung memilih untuk memulai karir solonya dan  keluar dari grup. Kabar ini memicu reaksi beragam dari para penggemar, mulai dari dukungan  emosional yang masif sebagai bentuk sisi positif hubungan parasosial, hingga munculnya perilaku  obsesif dan kekecewaan mendalam. Kekecewaan terlihat dari berbagai bentuk respons emosional

yang mereka tunjukkan, seperti mengirimkan truk protes ke gedung agensi tempat ENHYPEN, membuat petisi kembalinya Heeseung yang telah ditandatangani oleh lebih dari 1 juta  orang, serta melakukan aksi demonstrasi secara langsung (in person protest). 

Fenomena ini semakin memperkuat bahwa hubungan parasosial mempu mengikat struktur  emosional yang mampu menggerakkan massa secara kolektif di dunia nyata. Aksi ini  menunjukkan bahwa ketika identitas diri penggemar sudah terlalu melekat pada eksistensi sang  idola, perubahan-perubahan yang ada akan dirasakan sebagai ancaman terhadap stabilitas  emosional mereka sendiri.

Pada akhirnya, tantangan bagi setiap individu di tengah pesatnya perkembangan teknologi  komunikasi adalah menjaga batasan yang sehat (healthy boundaries) dengan figur publik yang ada di media. Menikmati karya dan pencapaian mereka bisa menjadi sumber hiburan, inspirasi serta  motivasi. Namun, penting bagi tiap individu menyadari bahwa hubungan ini bersifat satu arah dan  menerima realita yang ada. Dengan menyeimbangkan interaksi emosional dan kesadaran diri,  hubungan parasosial akan memberikan manfaat tanpa menimbulkan dampak negatif bagi individu  maupun bagi figur publik tersebut.

Penulis: Keisya Saskia

Editor: Aisyah Hidayat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *