Menyambut Bulan Ramadhan, Masyarakat Aceh Kembali Melaksanakan Tradisi Unik bernama Meugang

Darussalam Marhaban Ya Ramadhan.

Bagi umat muslim, bulan Ramadhan merupakan sebuah bulan yang paling mulia diantara bulan-bulan lainnya. Bulan Ramadan dipenuhi dengan banyak keutamaan, sehingga tentunya umat muslim di seluruh dunia menyambut bulan ini dengan suka cita dan rasa syukur. Uniknya, seluruh umat muslim di berbagai pelosok dunia memiliki caranya masing-masing dalam menyambut bulan penuh berkah ini, salah satunya yaitu tradisi yang dimiliki oleh provinsi dengan penduduk muslim terbanyak di Indonesia, apalagi kalau bukan Aceh, yaitu “Meugang” atau biasa juga disebut “Mak-Meugang”. Meugang merupakan tradisi turun-temurun dari nenek moyang yang hingga kini masih terus berjalan sampai menjadi sebuah hal yang “wajib” sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Ada yang tau gak sih apa arti “Meugang”?

“Gang” dalam bahasa Aceh berarti pasar. Menjelang bulan Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha, jumlah masyarakat yang mendatangi pasar meningkat drastis, sehingga munculah istilah “Makmu that gang nyan” (makmur sekali pasar itu) atau Makmeugang. Meugang juga berarti membeli daging. Daging yang dibeli nantinya akan diolah dan di makan bersama keluarga.Bahkan, beberapa kampung melaksanakan tradisi meugang dengan masak bersama atau kenduri bersama di meunasah(musholla).

Tingginya antusias masyarakat dalam melaksanakan meugang ini membuat pasar pun tidak cukup untuk menjadi lokasi penjualan daging. Untuk memenuhi hal tersebut, penjualan daging tersebar di beberapa titik lokasi selain pasar seperti di jalan atau blok sekitaran pasar ataupun beberapa titik yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Kota agar mudah dipantau kebersihan dan tata letaknya agar rapi dan tidak menimbulkan kemacetan.

Sejarah Meugang

Ali Hasjmy menyebutkan bahwa tradisi meugang ini sudah dimulai sejak masa Kerajaan Aceh Darussalam. Ketika itu, Sultan Iskandar Muda memerintahkan kepada balai fakir untuk membagikan daging, pakaian, dan beras kepada masyarakat tersebut. Biaya ini semuanya ditanggung oleh bendahara Silaturrahim, yaitu lembaga yang menangani hubungan negara dan rakyat di Kerajaan Aceh Darussalam.

Sedangkan dilansir dari “Perayaan Mameugang dalam Perspektif Hukum Islam” karya Iskandar, perayaan meugang dilaksanakan oleh Sultan Iskandar Muda sebagai wujud syukur raja atas kemakmuran rakyatnya serta untuk menyambut Ramadhan. Tradisi meugang ini dilaksanakan oleh kerajaan di istana yang dihadiri oleh para Sultan, Menteri, Para Pembesar Kerajaan serta Ulama.  

Tradisi meugang ini awalnya dilaksanakan selama tiga hari, akan tetapi setelah adanya kesepakatan dari para ulama di Aceh dan Indonesia pada umumnya untuk menggunakan metode rukyah hilal awal dalam penentuan 1 Ramadhan, maka meugang hanya dikenal satu hari saja, hanya saja kebanyakan orang memilih untuk merayakan meugang sejak dua hari sebelum Ramadhan.

Sang lagei hi^ menyoe hana Meugang, hana jadeh ta puasa singoh uroe.”

Begitulah sekiranya slogan dari tradisi ini, dimana tradisi ini telah menjadi sebuah hal yang wajib dilaksanakan di lingkungan Masyarakat Aceh. Dalam perjalanannya tradisi meugang tidak lagi menjadi program dari pemerintah kepada masyarakat, tetapi menjadi tradisi sesama masyarakat dan juga untuk menggerakkan ekonomi dengan munculnya pasar daging di berbagai lokasi.

Makna Representase Meugang

Perayaan meugang dianggap sebagai salah satu bagian agama yang mesti dilaksanakan karena dilakukan pada hari-hari suci umat Islam. Perayaan ini dianggap juga momen penting untuk berkumpul bersama keluarga. Biasanya, anak yang sedang merantau, pulang kerumah untuk melaksanakan tradisi meugang. Ini juga mengandung makna untuk mengapresiasi orang tua, bahwa anak yang sedang di perantauan merindukan masakan daging orang tuanya.

Makna lain dari meugang adalah untuk memberi sedekah kepada orang yang membutuhkan agar mendapatkan hak yang sama dalam menyambut Ramadhan dan juga untuk mempererat silaturahmi terhadap masyarakat sekitar.

Berkaca dari pelaksanaan meugang dari tahun ke tahun, lantas kita tidak melihat perbedaan yang mencolok diantara meugang dari tahun-ke tahunnya. Namun, sudah dua tahun ini situasi pandemi Covid-19 membuat perbedaan mendasar pada kondisi situasional pasar disaat meugang. Daya beli masyarakat menurun tidak dapat diimbangi dengan harga daging yang terus melonjak naik tiap tahunnya, bahkan tidak hanya pembeli yang mengeluh dengan situasi seperti ini, kalangan pedagang juga dibuat gusar karena tidak dapat memaksimalkan profit dan hanya meraih margin yang makin sedikit.

Kita sama-sama berdoa agar situasi seperti ini cepat membaik dan kembali normal, dengan tidak ada batasan sosial, mungkin situasi ekonomi pun juga kembali membaik, sehingga di tahun kedepannya kita kembali merasakan akan semaraknya pasar meugang seperti tahun-tahun sebelum datangnya pandemi Covid-19.

Nah, udah pada tau kan latar belakang tentang pelaksanaan meugang?

Kita harus bangga loh, dengan keunikan dan kearifan kebudayaan tersebut. Dengan kebudayaan yang kita punya, kita dapat dikenal oleh dunia lebih luas lagi. Budaya merupakan sebuah citra baik untuk kita dan sepatutnya sebagai generasi muda kita harus pula selalu bangga untuk melestarikannya.

 “Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala, Qanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana”.

( Rama&Tiasabila/Perspektif )

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.