Darussalam — Indonesia saat ini sedang menghadapi kondisi ekonomi yang cukup paradoks. Di tengah pertumbuhan ekonomi yang disebut terus membaik, nilai tukar rupiah justru semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi sedang melesat di angka 5,61%, namun mata uang kita, rupiah, justru terus melemah di pasar global. Ada apa sebenarnya dengan kondisi ini?
Pada 15 Mei 2026, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menyentuh angka Rp17.600. Sebuah angka yang memberatkan untuk kita yang sering berbelanja barang impor atau sekedar memiliki hobi memantau harga gadget terbaru.
Kondisi saat ini dipertegas oleh laporan Forbes Advisor per April 2026 yang menempatkan Indonesia di posisi kelima sebagai negara dengan nilai tukar terlemah terhadap dolar AS. Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah kondisi tersebut menjadi tanda bahwa ekonomi Indonesia sedang tidak baik-baik saja?
Perry Warjiyo menyebutkan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam kondisi undervalued. Ia juga menambahkan pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat tinggi di angka 5,61%, inflasi tetap terjaga rendah, penyaluran kredit tumbuh pesat, dan cadangan devisa kita juga masih kuat. Secara logika, dengan kondisi sehat seperti ini, rupiah seharusnya kuat. Namun, terdapat berbagai faktor global dan musiman yang sulit dibendung.
Saat ini, dunia sedang menghadapi harga BBM yang melambung tinggi akibat dua faktor yang saling memperburuk, yakni konflik geopolitik yang mengganggu pasokan energi global serta keputusan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang memangkas produksi minyak demi menjaga harga tetap tinggi. Di saat yang sama, suku bunga di Amerika Serikat juga terus meningkat. Keuntungan bunga obligasi pemerintah AS (Yield US Treasury) tenor 10 tahun bahkan telah mencapai 4,59%. Bagi para investor, instrumen tersebut dianggap lebih aman sebagai safe haven. Akibatnya, terjadi capital outflow atau pelarian modal besar-besaran dari negara berkembang, termasuk Indonesia, menuju Amerika Serikat.
Selain faktor global, terdapat pula faktor musiman yang turut menekan nilai tukar rupiah. Secara teknis, surplus neraca perdagangan mulai menyempit. Meskipun Indonesia melakukan banyak ekspor dibandingkan impor, selisihnya kian menipis. Sebagai negara pengimpor minyak, kenaikan harga minyak dunia menjadi beban berat yang memaksa kita mengeluarkan devisa lebih besar. Kondisi inilah yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Saat rupiah terdepresiasi, daya beli masyarakat akan menurun. Mengapa? Sebab harga barang di pasar mulai bergejolak. Fenomena ini akhirnya membuat konsumen jadi lebih menahan diri untuk berbelanja. Situasi penuh ketidakpastian ini juga memaksa pelaku usaha untuk menyesuaikan harga jual mereka agar tidak rugi. Jika hal ini terus berlanjut, konsumsi masyarakat yang selama ini menjadi motor utama ekonomi kita akan melambat yang berakibat menghambat pertumbuhan ekonomi nasional secara keseluruhan.
Pelemahan nilai rupiah ini menciptakan tekanan yang besar terhadap UMKM. Bagi pengusaha kecil yang bergantung pada bahan baku impor, fenomena kenaikan kurs ini adalah ancaman nyata. Kondisi serupa juga berdampak ke kalangan mahasiswa, mulai dari membengkaknya biaya penunjangan kuliah seperti perangkat teknologi, buku impor, dan sebagainya.
Pada akhirnya, fenomena ini bukan sekedar deretan angka di tabel kurs, melainkan ujian daya tahan bagi seluruh lapisan masyarakat untuk tetap bertahan di tengah tekanan ekomoni yang kian melambung. Mulai dari pelaku usaha yang terpaksa memutar otak agar dagangannya laris hingga konsumen yang harus lebih bijak mengatur pengeluaran.
Perspektif/Muhammad Haikal Catur Setya
Editor: Mazaya Kayyisa











