Foto by Yosa

Darussalam – Salah satu Persoalan yang akan dihadapi ketika berkuliah di luar negeri adalah keterkejutan budaya atau yang sering disebut Culture Shock. Begitu pula yang dihadapi oleh dua mahasiswa asing yang berasal dari Negara yang berbeda tersebut. Sebut mereka Abu Ali dan Pap Cheyassin yang memilih Universitas Syiah Kuala tentunya Fakultas Ekonomi dan Bisnis untuk melanjutkan pendidikan dan bergabung pada kelas internasional atau International Business and Economics Program (IBEP) sejak awal bulan oktober.

Abu Ali Nazarov merupakan mahasiswa International Accounting Program (IAP) yang berasal dari Tajikistan. Sementara Pap Cheyassin Cham merupakan  mahasiswa International Management Program (IMP) berasal dari Gambia, Afrika Barat. Keberanekaragaman suku, agama, ras serta hal lainnya pada bangsa Indonesia khususnya Aceh membuat mereka harus menyesuaikan diri dengan baik. Berbedanya kebiasaan yang mereka hadapi seperti makanan, bahasa, serta budaya sekalipun yang tidak pernah dijumpai sebelumnya akan berpengaruh dalam kehidupannya kini.

“perbedaan yang paling menonjol bagi saya antara Gambia dengan Aceh, adalah makanan. Minggu pertama saya datang ke sini, saya cukup kaget dengan makanan yang ada di sini! Rasanya berbeda dari masakan di kota saya. Di sini yang saya suka adalah nasi goreng dan ternyata itu sangat enak.” ungkap Pap Cheyassin sambil tertawa lebar saat membandingkan makanan yang ada di Aceh dengan negara asalnya. “Dari awal, kendala yang cukup menyulitkan kami adalah bahasa. Apalagi saat dalam kelas, untuk mengerti materi yang disampaikan dosen, kami kesulitan. Untuk itu, kami harus ikut kelas bahasa!” tambahnya.

Hal yang berbeda dirasakan Abu Ali, saat mendengar ceramah di masjid kampus mereka butuh teman yang bisa menerjemahkan ceramah yang menggunakan bahasa Indonesia. Meskipun begitu, ia sangat menyukai bahasa Indonesia karena dirinya juga merasa berat dalam mempelajari dan memperlancar bahasa Inggris. “bahasa Indonesia jauh lebih mudah untuk dipelajari.” Lugas Abu dengan jelas. Ia juga sangat senang mempelajari, mempraktikkan dengan berbicara pada orang disekitarnya seperti “apa kabar, selamat pagi, selamat malam” dan sapaan sehari-hari lainnya.

Terlepas dari persoalan yang dihadapi, namun keduanya menyatakan sangat senang berkuliah di Aceh. Karena selain biayanya lebih murah dari kuliah di negara asal mereka sendiri, juga mereka banyak mendapatkan manfaat yang lain dari kuliah di Aceh.  Perbedaan budaya merupakan hal yang sangat menarik mereka berdua. “Saya dapat mempelajari budaya Aceh dan kehidupannya.” ungkap Pap Cheyassin. “Dengan mayoritas penduduk muslim saya melihat setiap wanita di sini menutupi kepala mereka dengan hijab dan itu seperti sudah menjadi budaya di sini, sehingga mahasiswa asing lainnya juga memakai hijab untuk menyesuaikan.” Jelasnya dengan senyum sumringah. (Dua, TaN)