Ilustrasi by Vannadisme

Darussalam – Pada dasarnya membaca adalah tonggak pengetahuan bagi seluruh manusia dimuka bumi ini. Bagaimana tidak? Dengan membaca, berarti kita telah mendapatkan informasi dan pengetahuan baru yang sebelumnya tidak diketahui dan dapat menambah ilmu untuk diri kita sendiri. Namun, apa yang terjadi dengan seseorang  yang kurang gemar membaca khususnya mahasiswa yang harusnya memiliki wawasan luas? Pastinya sangat disayangkan apabila hal itu terjadi.

Akhir- akhir ini dapat diamati bahwa kesadaran mahasiswa sebagai tonggak perjuangan rakyat mulai aktif kembali. Akan tetapi, selaras dengan timbulnya kesadaran tersebut dapat kita rasakan yaitu mulai hilangnya nilai dan jati diri mereka sendiri sebagai seorang mahasiswa. Tampaknya, situasi mahasiswa saat ini, mulai meninggalkan peran dalam membangun kompetensi di dirinya, dan acap kali disebabkan karena rendahnya minat mahasiswa dalam membaca, menulis, ataupun berdiskusi.

Minimnya minat mahasiswa dalam membaca sangat berpengaruh terhadap pengetahuan mereka dalam berdiskusi, Hal ini nyata adanya, saat kelas sedang berlangsung, seorang dosen bertanya pada mahasiswanya mengenai salah satu pemikir hebat ekonomi atau yang juga dikenal sebagai bapak Ekonomi , Adam Smith. Namun, kebanyakan dari mereka bahkan tidak mengetahui hal tersebut, pemikiran apa yang dibawanya, atau sekedar judul buku saja mereka tidak berkutik. Sungguh miris ketika hal ini terjadi pada mahasiswa  Ekonomi sendiri.

Saat ini mahasiswa yang kurang minat dalam membaca, semakin menambah keresahan dunia intelektual, terlebih dengan adanya mahasiswa yang apatis, dan memiliki gaya hidup hedonis semata. Ditakutkan, mereka yang berperilaku tersebut akan diberi label ‘mahasiswa feodal’, yang berarti tunduk akan sesuatu yang bahkan mereka sendiri pun tidak mengetahui untuk apa mereka melakukannya, dan mulai hilangnya gairah untuk berdiskusi diluar dunia perkuliahan.

Dalam hal ini sebaiknya mahasiswa dapat mencontoh Soe Hok Gie sebagai role model pada beberapa sisi idealisnya. Dia mengajarkan bagaimana sikap yang seharusnya pemuda lakukan yaitu lantang menyuarakan kebenaran dan berani melawan ketidakadilan. Inilah suatu harapan besar para pemikir hebat bangsa ini agar pemuda menjadi titik tumpu untuk menyelamatkan dan memajukan bangsa ini menjadi bangsa yang berdaulat secara utuh.

Bukankah para founding fathers kita menyebutkan bahwa dirinya tak bisa dipisahkan dengan buku dan yang membentuk mereka menjadi karakter yang disiplin ialah dikarenakan dengan kegemaran mereka dalam membaca, menulis, dan berdiskusi. Begitupun Mohammad Hatta pernah menyatakan bahwa buku menjadi salah satu sumber energi dan kebebasan bagi mereka yang haus akan ilmu pengetahuan.

Harusnya sebagai mahasiswa yang berintelektual baiknya kembali ke jalan yang orisinal yakni jalan yang dipenuhi oleh argumen bukan sentimen, kembali menjadi mahasiswa yang bersikap skeptis lantaran kritis, dan mampu menelaah suatu informasi agar tidak timbul sentimen yang membutakan perasaan juga menipu pikiran.

Bacalah, menulislah, dan berdiskusilah agar dapat kau pahami bahwa dirimu bukan mesin yang mesti sekolah, kuliah, lalu mati tanpa pernah mengerti mengapa kau dikirim ke muka bumi (Catatan Juang) – (Yodi/Perspektif)