Pihak BEM FEB Tanggapi Krisis atau Cacat, “Kritikan adalah Pembelajaran.”

 

Ilustrasi by Vannamrgn

Darussalam 一 “Kritikan adalah suatu pembelajaran, bagi siapapun yang menjadi seorang pemimpin.” Kata pihak BEM FEB Unsyiah menanggapi tulisan tim LPM Perspektif dengan judul Ormawa Ekonomi ; Krisis atau Cacat Kepemimpinan?

Pada tulisan sebelumnya, pihak BEM FEB menyanggah beberapa poin yang seharusnya diluruskan. Apa saja ya? Yuk simak!

Berbicara mengenai Sidang Umum atau lazim disebut SU, pihak BEM FEB mengatakan bahwasannya SU akan dilaksanakan dengan agenda yang di dalamnya membahas mengenai AD-ART, dan hal-hal penting lainnya serta perlu peninjauan lebih lanjut.

“Kalau yang disebutkan dilaksanakan tiga bulan sekali, itu adalah sidang triwulan, bukan sidang umum. Sidang Triwulan ini sendiri bisa membahas hal-hal yang mendesak dan perlu diambil keputusan secara cepat, berlaku dalam penetapan KPR FEB, apabila diperlukan.” papar seorang narasumber dari internal BEM FEB yang tak ingin disebutkan identitasnya.

Pihak BEM FEB mengatakan bahwa mereka cukup setuju dengan KPR FEB yang tidak berjalan sesuai mandat seharusnya. Namun, pihak BEM FEB menambahkan, ini terjadi akibat kesalahan waktu. Kayak lagu Fiersa Besari aja, “waktu yang salah”. Eh.

Masih dari narasumber yang sama, ia menjelaskan memang banyak kendala terkait sistem pemira yang semestinya dijalankan di FEB Unsyiah.

“Katakanlah sistemnya sudah salah atau cacat. Masalahnya di sini kita berbicara mengenai realita. Waktu sudah tidak banyak lagi, mengingat bulan Desember sudah memasuki bulan Pemira, maka dari itu pihak Wakil Dekan III, pak Murkhana mengeluarkan surat keputusan atau SK untuk KPR FEB.”

Maka dari itu, KPR FEB langsung ditetapkan dengan bersamaan keluarnya SK dari pihak WD III. Soalnya kalau ga gerak cepat, nanti ditikung, #bercandasayang.

Nah masih membahas mengenai KPR FEB, sempat muncul desas-desus Pemira FEB tahun 2019 akan dilaksanakan sistem demokrasi, bukan lagi aklamasi. Lalu mengapa sekarang memilih kembali pada aklamasi, ya? Hmm, mungkin Aklamasi adalah jalan ninja kita.

“Awalnya tahun 2019 mau dibuat Pemira, tapi kawan-kawan dari tahun 2016 dan 2017 yang mendaftar hanya satu orang, dan kita ga mungkin buat Pemira. Kalaupun dibuatkan Pemira, rasanya hanya buang-buang waktu. Demi mengefensiensikan waktu.” jelas sang narasumber.

Kami ini kan masih mahasiswa, tidak hanya karena organisasi kita di sini, tapi masih ada tugas kuliah menumpuk, kan lebih baik membuang-buang waktunya untuk menunaikan tugas kuliah, ya bung. Se7!

Selebihnya, pihak BEM FEB merasa tidak ada masalah lagi selain beberapa poin di atas, niat baik pun untuk meluruskan, “Pemimpin itu adalah seseorang yang dapat menerima kritikan. Dia pun yang seharusnya bisa mencari solusi untuk kritikan yang dituju padanya. Karena apa? Siapapun dia, kita, yang menjadi pemimpin ini artinya kita dipercayai sebagai sosok yang bisa menyelesaikan suatu masalah, maka diberikan tanggungjawab sebagai pemimpin.” tutur sang narasumber.

“Aku dan kita semua berharap, teruntuk seluruh ormawa yang bernaung di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Syiah Kuala ini dapat lebih baik dan bagus lagi. Apa yang baik di tahun lalu, ambil. Apa yang buruk di tahun lalu, tinggalkan. Semoga untuk tahun 2020 bisa menciptakan perubahan yang baru!” tutup narasumber.

Terlepas dari semuanya, tak ada yang mau dikatakan sedang mengalami ‘krisis’ atau ‘cacat’ bahkan soal kepemimpinan. Kapasitas seorang pemimpin itu berbeda-beda, maka, tak bisa kita pukul rata begitu saja. Namun, apabila akar sudah mengalami ‘cacat’, maka cabang-cabang yang tumbuh pun akan ‘cacat’ pula.

“Anak Muda, mari kita ubah orientasi tak terjebak gaya hidup menumpuk materi. Hidup jujur sederhana, menolak jalan instan menghalalkan segala cara.” – Najwa Shihab (Perspektif)

Comments are closed, but trackbacks and pingbacks are open.