Unsyiah Keluarkan Surat Cinta 2020 Teruntuk Mahasiswa Akhir

Illustrasi by Vannamrgn

Darussalam – Selain sedang rame-rame Isu Perang Dunia III, Unsyiah sempat-sempatnya mengeluarkan surat cinta berbentuk surat edaran resmi yang berisi : Kewajiban mencetak dan menjilid skripsi melalui aplikasi ETD (Electronic Thesis and  Dissertations) bagi mahasiswa Universitas Syiah Kuala di UPT Percetakan & Penerbitan atau disebut Unsyiah Press. Kebijakan ini berlaku mulai tanggal 20 Januari 2020 lalu.

Artinya, seluruh mahasiswa Unsyiah yang sedang bergulat dengan skripsweet wajib mencetak skripsinya hanya di UPT Percetakan & Penerbitan Unsyiah.

Lalu gimana ya nasib usaha per-fotocopy-an di Gerbang Kopelma Unsyiah? Eits! Sebelum memikirkan nasib orang lain, bagaimana kalau kita pikirkan dulu nasib mahasiswa Unsyiah mengenai kebijakan terbaru Unsyiah di awal tahun 2020 ini.

Menurut Jauhar, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) angkatan 2015, bahwa Ia tidak mempermasalahkannya dengan kebijakan tersebut.

“Namun, seharusnya pihak Unsyiah sendiri melakukan sosialisasi terlebih dahulu dalam pengambilan kebijakan seperti ini pada mahasiswa. Karena yang terkena dampak langsung kan mahasiswa Unsyiahnya sendiri.” katanya.

Berbeda dengan Jauhar, Reza selaku mahasiswa yang juga berasal dari FEB angkatan 2016, menyatakan keberatan dengan kebijakan tersebut.

“Kebijakan ini terbilang mendadak, dan ramai saat surat edarannya beredar di twitter, cukup mengejutkan sih. Apalagi mengenai harganya lumayan mahal dibandingkan tempat percetakan di luar. Seharusnya dipikirkan kembali mengenai pandangan dari mahasiswa Unsyiah, karena kita ini berasal dari berbagai kalangan dan latar belakang ekonomi yang berbeda-beda.” papar Reza.

Berbicara mengenai kebijakan ini, sebuah pertanyaan muncul pada benak tentang keresahan ini; “3000 skripsi dicetak di satu tempat bisa memakan waktu sebulan. Jika di cetak di 20 tempat, bisa memakan waktu seminggu saja. Mahasiswa yang diwisuda akan lebih banyak. Apa tidak dipikir yang seperti ini?”

Namun di sisi UPT Percetakan dan Penerbitan milik Unsyiah ini sebenarnya sah-sah saja memberlakukan kebijakan seperti ini.

Terlebih bagi kita yang masih bernaung di Unsyiah, sebenarnya harus patuh dan terima dengan kebijakan yang dikeluarkan oleh pihak Unsyiah. Toh, sekalian memajukan salah satu lembaga milik Unsyiah. Kan, kalau bagus, nantinya mahasiswa Unsyiah sendiri yang bangga. (Yongli/Perspektif)