Dear Mahasiswa Akhir, Kami Hadir sebagai Solusi bukan Masalah – Unsyiah Press

Darussalam Unsyiah Keluarkan Surat Cinta 2020 Teruntuk Mahasiswa Akhir, ternyata bukanlah sebuah gombalan semata dari birokrasi Unsyiah. Namun bukti cinta nyata dari Unsyiah untuk mahasiswa akhir yang menempuh skripsweet.

Menanggapi banyaknya reaksi mahasiswa Unsyiah di beragam media sosial, Kepala UPT Percetakan & Penerbitan atau disebut Unsyiah Press ingin menjelaskan maksud dari surat cinta milik Unsyiah yang tengah beredar dan ramai sampai di Instagram dan Twitter. Asyik Viral nih.

“Sebenarnya ini sudah direncanakan dua tahun yang lalu, namun baru bisa terealisasikan tahun ini. Soalnya mesinnya saja baru datang akhir bulan November 2019 lalu. Oh ya, kebijakan ini hadir untuk menolong mahasiswa-mahasiswa Unsyiah agar mudah dalam hal mencetak skripsi, yang di mana mahasiswa tidak perlu susah payah lagi untuk pergi ke tempat lain ketika adanya kesalahan dalam skripsinya.” terang Taufiq Abdul Gani, Kepala UPT Percetakan & Penerbitan Unsyiah.

Nah, berbicara mengenai kebijakan ini, banyak mahasiswa Unsyiah yang memprotes tentang kebijakan yang terbilang mendadak dan tidak ada sosialisasinya terlebih dahulu kepada mahasiswa Unsyiah. Beragam reaksi bernada negatif pun berseliweran di media sosial.

Namun, menurut Pak Taufiq, sosialisasi sudah dilakukan secara menyeluruh sejak beberapa bulan lalu.

“Sosialisasi sudah dilakukan sejak September kepada perangkat-perangkat Birokrasi, seperti Rektor, Wakil Rektor, Dekanan, Wakil Dekanan, Kepala Jurusan, Dosen, dan yang pada akhirnya nanti informasinya akan menyebar kepada mahasiswanya.” Katanya.

Artinya, beliau menyatakan bahwa peraturan ini memang sudah menyebar di kalangan birokrasi. Tapi kok ya, mahasiswa ga diberitahu? Yang skripsi siapasih?

Sepertinya beliau menggunakan social media sebagai bentuk sosialisasinya, atau bahasa gaulnya, forward message kepada mahasiswa Unsyiah.

Mantan Kepala Perpustakaan Unsyiah ini juga hendak meluruskan tentang perdebatan di twitter yang mempermasalahkan harga cetak yang dikeluarkan oleh pihak Unsyiah Press, “Harga ini sudah kami sesuaikan dengan harga percetakaan lainnya di pasaran, serta sudah dikoordinasi dengan pihak Rektorat Unsyiah sendiri, agar tidak memberatkan mahasiswanya.”.

Lah, terus yang diributkan banyak mahasiswa, katanya harga cetak skripsi yang cukup mahal. Namun, katanya lagi sudah sesuai dengan harga pasarannya? Hmmmm, mari kita lihat.

Mumpung menyinggung soal harga, tahukah kamu? Sistem pembayaran yang akan diterapkan oleh pihak Unsyiah Press adalah sistem cashless, yang artinya anda wajib membayar biaya cetak skripsi di sini langsung ke rekening Unsyiah via Bank.

“Soalnya sistem cashless ini kan sedang di galakkan kepada masyarakat oleh pemerintah, maka kami mendukung dengan cara ini. Karena uang yang masuk ke dalam rekening Unsyiah nantinya, tidak bisa di ambil oleh sembarang orang, musti ada izin sertakan dari pihak Menteri Keuangan, makanya lebih aman lah menjaga mata biar ga hijau.” Wah, Pak Taufiq ini memang mantul, mantap betul.

Eh, tapi Pak kalau ada mahasiswa yang ga punya ATM gimana cara bayarnya? Gabisa cash nih?

“Dulu sewaktu saya menjabat sebagai Kepala Perpustakaan Unsyiah tak ada mahasiswa Unsyiah yang tidak bisa bayar denda melalui ATM, semua bisa kok. Maka, saya rasa tidak ada kesalahan dengan menerapkan sistem pembayaran yang melewati ATM ini. Toh, malah aman nantinya.”

Berbicara mengenai surat edaran lanjutan tersebut, nomor 7 dalam persyaratan di nilai memberatkan mahasiswa, masa iya?

“Hal ini dilakukan agar mahasiswa yang belum memiliki dana untuk cetak bisa terlebih dahulu memberikan file yang berbentuk PDF, agar setelah ada dana nantinya bisa mencetak skripsi dengan memiliki kualitas yang tinggi. Tenang saja, pasti kami bantu, apalagi masalah dana, tidak ada universitas yang mau menyulitkan mahasiswanya.” tutup Pak Taufiq.

Kesimpulannya yang bisa kita petik, eh sudah kayak kultum saja. Gini bung, apabila kita pahami lebih dalam tanpa mengambil persepsi negatif secara langsung, maka kita bisa memahami mengapa kebijakan ini diterapkan di tahun 2020.

“Kalau bukan sekarang, ya kapan lagi?” Mirip separuh tagline salah satu capres beberapa periode lalu.

Mungkin tahun 2020, adalah langkah pertama bagi Unsyiah Press memajukan dirinya sebagai salah satu lembaga Unsyiah. Bukankah sebaiknya kita sebagai mahasiswa Unsyiah sendiri mendukung untuk Unsyiah lebih maju?

“Kalau bukan kita, ya siapa lagi?” lengkap sudah tagline yang tadi. (EZN/Perspektif)