Perkara Mistis, Hasut Kabur dari Ibadah Terakhir

Ilustrasi : team Grafis/Perspektif

Darussalam – Ini merupakan pengalaman setahun yang lalu, tepatnya terjadi pada bulan suci Ramadhan yang mana mewajibkan semua umat Islam yang mampu melaksanakan puasa, maka laksanakan begitupun shalat tarawih, meskipun sunnah namun Rasulullah menganjurkannya.

Heh, tapi di sini aku bukan mau membahas tentang hukum mengenai bulan Ramadhan dan puasanya, namun lebih ke pengalaman mistis yang aku alami dengan kakak perempuanku. Mari siap-siap dulu.

Kala itu kami sedang melaksanakan shalat tarawih. Sesaat sebelum shalat witir, kami malah memilih untuk meninggalkan masjid alias kabur, padahal hanya tiga rakaat saja.

Keberadaan masjid yang kami datangi tak jauh dari rumahku, cukup dekat. Jalan menuju ke rumahku dari arah masjid selalu sepi, ditambah tidak ada penerangan jalan, begitulah kira-kira keadaan sekitar pada malam hari. Ada satu bangunan rumah yang sedang dibangun, letaknya diantara masjid dengan rumahku.

Rumor yang tersebar dari mulut ke mulut masyarakat sekitar yang mengatakan ada pohon besar persis di belakang masjid, yakni yang ada di jalan ke arah rumahku. Konon katanya di bawah pohon, tepatnya ada bekas kuburan lama seorang perempuan yang baru saja menikah, namun tragisnya ia meninggal. Memang umur tidak ada yang tahu.

Rumor mengatakan lagi bahwa sesosok arwahnya selalu bergentayangan di sekitaran pohon tersebut. Pernah ada yang bercerita, orang yang tinggal di belakang rumahku itu adalah seorang wanita paruh baya. Setiap sekitaran jam lima pagi ia selalu pergi ke sumurnya, lalu ia melihat ada sesosok perempuan berbaju putih sedang bermain ayunan.

Sontak membuatnya terkejut dan ketakutan melihat penampakan itu. Namun dengan segenap keberanian yang penuh, ia berjalan menghampiri sumur yang dekat dengan ayunan berpenghuni itu, sambil berkata, “Jangan ganggu saya,” dan benar saja sosok makhluk halus tersebut menghilang dari pandangannya.

Kembali kepada cerita sehabis shalat tarawih. Kami baru saja keluar dari masjid, dan aku merasa aura di sekitar mulai berubah menjadi tidak mengenakkan, angin yang bertiup menjadi terasa sangat dingin. Hanya kami berdua yang keluar dari masjid dan hanya kami pula yang melewati jalan tersebut untuk menuju ke rumah.

Kami berusaha untuk tidak memperdulikan keadaan sekitar, niatan pulang awal untuk dapat menonton serial televisi secepatnya. Saat perjalanan pulang, tidak sengaja kami berdiri tepat di bawah pohon yang katanya “angker” itu, dan lebih tepatnya lagi di atas kuburan lamanya.

Saat sedang berjalan tiba-tiba kakakku berhenti, lalu menoleh ke arahku sambil berkata, “Ngapain cubit-cubit aku!” tegasnya. Aku bingung dengan perkataan kakakku, ya mana ada sambil jalan aku mencubiti dia, kurang kerjaan sekali aku.

Berhubung pohon ini masih di sekitaran masjid dan kami masih di tempat ini, angin bertiup semakin kencang, terlihat ada keranda jenazah yang sedikit bergerak, seketika kami ketakutan dan berlari sampai rumah. Sesampainya dirumah, kakakku mengecek keadaan kakinya, dan betul saja di area yang terasa cubitan tadi membiru.

Berlanjut pada pagi hari, setelah selesai sahur biasanya aku bangun lebih awal. Sekitaran pukul enam pagi, karena rumahku dekat kaki gunung membuat hawanya selalu terasa dingin. Biasanya setelah bangun dan keluar dari kamar aku merebahkan diri di ruang tamu sambil memperhatikan jam dinding menunggu jam setengah tujuh.

Sebelum keluar kamar, aku memastikan kakakku masih tertidur. Tapi aku jelas melihat seorang perempuan dengan gaya ala 90-an dan rambut panjangnya sebahu, berjalan melewatiku. Saat aku tersadar mungkin salah satu kakakku yang lainnya, tapi arahnya berasal dari kamar orang tuaku dan menuju ke arah dapur.

Sesosok itu memandang keluar dari dapur yang arahnya menghadap ke jalan pulang dari masjid. Untuk memastikannya aku berusaha memanggil nama di antara kedua kakakku, namun tak kunjung mendapat jawaban, ya sudahlah pikir ku.

Aku tidak mau terlalu berpikir pada pagi hari ini, aku pun memutuskan untuk kembali ke kamar, menyambung waktu tidurku. Kedua bola mata ini menangkap sosok kedua kakakku masih tertidur terlelap, tentu aku menjadi bertanya-tanya, “Lalu siapa tadi?”, ternyata dia bukan seseorang yang ku kenal. Mungkin mba ayunan  tadi hihihihi. (J/Perspektif)